NUSA TENGGARA TIMUR — Peluncuran SRUK di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, hingga Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo. Sistem ini merupakan amanat Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga.
Empat Proyek Kehutanan Siap Jual Kredit Karbon
Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengungkapkan, kementeriannya telah memberikan persetujuan kepada tiga proyek rehabilitasi atau restorasi ekosistem dan satu proyek perhutanan sosial berupa hutan desa. Keempat proyek sudah diverifikasi sehingga siap beroperasi.
"Total karbon yang diperdagangkan adalah 31,7 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi sekitar Rp5 triliun. Estimasi PNBP sekitar Rp500 miliar," ujar Rohmat dalam sambutannya.
Menurutnya, perdagangan karbon tidak hanya menyasar swasta dan investor, tetapi juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk kelompok tani hutan dan warga di sekitar kawasan hutan.
OJK: SRUK Jadi Urat Nadi Pasar Karbon
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan, SRUK akan menghubungkan pasar primer dengan pasar sekunder di Bursa Karbon Indonesia. Ia menyebut sistem ini sebagai urat nadi perdagangan karbon nasional.
"Ini sebagai primary market nanti akan tersambung kepada secondary market-nya di Bursa Karbon Indonesia, sehingga ini nantinya tentu akan menjadi urat nadinya perdagangan karbon Indonesia yang semakin baik, semakin besar size-nya," jelas Friderica.
Ia optimistis Indonesia bisa menjadi pemimpin pasar karbon dunia, mengingat besarnya potensi yang dimiliki.
Tantangan Integritas Kredit Karbon
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menekankan, seluruh instrumen untuk memulai perdagangan karbon telah tersedia, mulai dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup hingga Peraturan OJK. Tantangan berikutnya adalah memastikan kredit karbon Indonesia memiliki integritas tinggi agar diakui pasar internasional.
"Semua instrumen untuk memulai perdagangan karbon sudah dibuat. Tinggal kita turun ke pasar dan memastikan karbon kita punya integritas yang tinggi, tidak tumpang tindih, dipelihara dengan baik di tingkat tapak," ujar Jumhur.
Ia menambahkan, tanpa integritas yang terjaga, kredit karbon Indonesia tidak akan dihargai tinggi oleh masyarakat internasional.
Apresiasi Hashim: Program Tanpa Cacat
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo memberikan apresiasi tinggi terhadap koordinasi antarkementerian dalam pengembangan SRUK. Dari empat satuan tugas yang ia tangani, SRUK dinilai sebagai program tanpa cela.
"Tugas saya sebetulnya adalah untuk melintasi birokrasi, untuk bantu-bantu. Dalam hal ini (SRUK), saya lihat program ini luar biasa, tanpa cacat, tanpa kekurangan," kata Hashim.
Ia menyebut peluncuran sistem ini sebagai pencapaian luar biasa yang menunjukkan keberhasilan birokrasi Indonesia dalam bekerja secara terkoordinasi.