FLORES TIMUR — Tiga warga kehilangan nyawa dalam konflik horizontal yang pecah antara dua kelompok masyarakat di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 06.15 WITA. Peristiwa yang melibatkan warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dan Desa Narasaosina itu juga menyebabkan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa kerusakan material cukup parah. “Konflik kekerasan antar warga ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan tujuh orang mengalami luka. Kerugian material tercatat antara lain 20 unit rumah terdampak, satu unit bangunan usaha, dan satu unit sepeda motor,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).
Wabup Flores Timur Langsung ke Lokasi
Wakil Bupati Flores Timur bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bergerak cepat menuju titik konflik. Langkah persuasif langsung dilakukan untuk meredam eskalasi ketegangan di antara kedua kelompok.
Abdul Muhari menambahkan bahwa pada hari Minggu, situasi di lokasi kejadian berangsur-angsur kembali normal. Aparat keamanan masih bersiaga di lapangan untuk melakukan pemantauan dan pengendalian guna mencegah konflik susulan.
Kunjungan Kepala BNPB Sehari Sebelum Bentrokan
Sehari sebelum insiden, pada Kamis (16/7/2026), Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Wakil Bupati Flores Timur sempat mengunjungi Kecamatan Adonara Barat. Agenda kunjungan itu adalah meresmikan hunian tetap dan sumur bor pasca-konflik antarwarga di Desa Bugalima.
Saat itu, Kepala BNPB juga menjadi saksi ikrar damai antara tokoh masyarakat Desa Bugalima dan Desa Ilepati. Momen rekonsiliasi tersebut ditandai dengan pertukaran cinderamata berupa sarung di Kantor Kecamatan Adonara Barat.
Konflik antarkampung di Flores Timur kerap dipicu oleh sengketa batas tanah, masalah air, atau dendam lama yang belum tuntas. Pendekatan adat dan mediasi oleh tokoh masyarakat sering menjadi kunci utama dalam menyelesaikan perselisihan di wilayah tersebut.