NUSA TENGGARA TIMUR — Ketegangan di Selat Hormuz memaksa Irak mencari alternatif pengiriman produk minyaknya. Alih-alih mengandalkan kapal tanker yang rawan risiko keamanan, pemerintah Irak kini mengirimkan ribuan truk tangki melintasi Suriah dalam perjalanan darat selama empat hari menuju pelabuhan-pelabuhan di Laut Mediterania.
"Ada titik temu dari berbagai kepentingan di sini, terutama kebutuhan Irak untuk mencari jalur distribusi produk mereka," ujar Raad Alkadiri, managing partner di 3TEN32 Associates, firma risiko politik berbasis di Washington, dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (19/7/2026).
Skala Logistik: Satu Truk vs Satu Kapal Tanker
Menggantikan kapal laut dengan armada truk bukanlah perkara sederhana. Satu kapal tanker raksasa mampu memuat hingga 700.000 barel minyak, sementara satu truk hanya mengangkut 135 barel dalam sekali perjalanan. Namun, Irak terpaksa mengambil langkah ini demi menyelamatkan kilang mereka dari risiko kelebihan muatan.
Berdasarkan data firma analitik Vortexa, pasokan dari Irak telah membantu Suriah mengekspor 720.000 ton minyak pada Juni lalu. Kementerian Minyak Irak bahkan mencatat volume ekspor lewat jalur darat ke Suriah dan Yordania melonjak drastis hingga menembus 1 juta ton pada periode yang sama.
Berkah bagi Ekonomi Suriah Pasca-Perang
Lonjakan aktivitas ini menjadi berkah besar bagi Suriah yang tengah memulihkan ekonomi pasca-perang saudara. Amerika Serikat dan negara-negara Barat kini melirik Suriah sebagai gerbang energi strategis untuk memperlemah kontrol Iran di Selat Hormuz. Keputusan AS mencabut sanksi ekonomi terhadap Suriah semakin membuka peluang ini.
Masa Depan Jalur Darat dan Rencana Pipa Minyak
Pertanyaan besarnya adalah apakah Irak juga akan mengalihkan ekspor minyak mentah—tulang punggung ekonomi mereka—ke jalur darat. Alkadiri menilai langkah ini berpotensi menjadi awal pengalihan logistik minyak mentah jangka panjang. Namun, rencana itu memerlukan perbaikan infrastruktur pipa yang serius, termasuk menghidupkan kembali pipa Kirkuk-Baniyas yang sudah mati suri selama dua dekade.
"Perang ini telah membuka mata banyak pihak tentang betapa pentingnya diversifikasi rute ekspor. Situasi ini seolah mengembalikan pola pikir Irak pada era 1980-an, yaitu: 'Jika rute Hormuz rentan, opsi apa lagi yang kita punya?'" pungkas Alkadiri. Para pelaku pasar meyakini Irak akan tetap mempertahankan jalur darat ini meski konflik mereda dan Selat Hormuz kembali normal, demi diversifikasi rute ekspor.