KUPANG — Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Lewotobi Laki-laki melaporkan erupsi terjadi pada pukul 13.20 WITA. Berdasarkan keterangan petugas PPGA, Satria Nugroho Wicaksana, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal yang condong ke arah utara, barat, dan barat laut.
Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 29,6 milimeter. Durasi erupsi tercatat selama 6 menit 4 detik. Data ini menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan di gunung setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut tersebut.
Status Siaga: Radius Bahaya 5 Kilometer dari Pusat Erupsi
Gunung Lewotobi Laki-laki yang berada di Desa Nurabelen, Kecamatan Wulanggitang, saat ini masih berada pada status level III atau siaga. Pada status ini, PPGA mengeluarkan rekomendasi tegas kepada warga untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Larangan ini bersifat mutlak mengingat potensi bahaya dari lontaran material pijar dan awan panas yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Warga yang tinggal di sekitar gunung diminta untuk selalu waspada dan mematuhi arahan dari petugas di lapangan.
Waspada Banjir Lahar Hujan di 8 Desa
PPGA juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki. Ancaman ini terutama meningkat jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Daerah yang perlu diwaspadai meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Material vulkanik yang menumpuk di puncak gunung dapat dengan mudah terbawa aliran air hujan dan menjadi lahar dingin yang merusak pemukiman serta lahan pertanian di bawahnya.
Gunakan Masker untuk Hindari ISPA Akibat Abu Vulkanik
Bagi masyarakat yang daerahnya terdampak hujan abu, PPGA mengimbau untuk tetap menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Langkah sederhana ini penting untuk menghindari penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang kerap muncul pasca-erupsi gunung api.
Abu vulkanik yang terhirup dalam jumlah banyak dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Warga di desa-desa yang berada di arah sebaran abu, terutama di sisi utara, barat, dan barat laut gunung, diminta untuk segera mengambil langkah perlindungan.