Pencarian

Startup AI Wayve Beri Jatah Jual Saham ke Karyawan Senilai Rp1,4 Triliun

Rabu, 01 Juli 2026 • 10:01:01 WIB
Startup AI Wayve Beri Jatah Jual Saham ke Karyawan Senilai Rp1,4 Triliun
Karyawan Wayve dapat menjual saham senilai Rp1,4 triliun melalui program tender offer terbaru.

NUSA TENGGARA TIMUR — Wayve mengumumkan program tender offer terbaru senilai USD 85 juta (sekitar Rp1,4 triliun) yang memungkinkan karyawannya menjual sebagian ekuitas yang sudah vested kepada investor. Program ini berlangsung di tengah valuasi perusahaan yang mencapai USD 8,5 miliar (sekitar Rp140 triliun) — angka yang sama saat mereka mengumumkan pendanaan Seri D sebesar USD 1,2 miliar pada Februari lalu.

Pendanaan Seri D tersebut dipimpin oleh Eclipse, Balderton, dan SoftBank Vision Fund 2. Turut serta sebagai investor adalah Ontario Teachers’ Pension Plan, Baillie Gifford, Microsoft, NVIDIA, dan Uber. Wayve sendiri sudah berusia sembilan tahun dan fokus mengembangkan teknologi self-driving yang berbeda dari pendekatan mayoritas pemain lain di industri ini.

Mengapa Perusahaan Rintisan AI Semakin Sering Menggelar Tender Offer

Ini bukan kali pertama Wayve memberikan likuiditas kepada karyawan. Sebelumnya, perusahaan juga menggelar tender offer bersamaan dengan pendanaan Seri C senilai USD 1,05 miliar pada Mei 2024. Pola ini mulai lazim di kalangan startup AI: alih-alih menunggu exit dalam hitungan tahun, perusahaan menggunakan tender offer sebagai alat retensi talenta.

Dengan program ini, karyawan punya alasan untuk bertahan daripada pindah ke kompetitor atau mendirikan startup sendiri begitu opsi sahamnya vested. Beberapa startup lain yang baru saja menyelesaikan tender offer serupa antara lain Decagon (pengembang AI agent untuk customer service), ElevenLabs (sintesis suara AI), Linear (platform manajemen proyek), dan Clay (alat otomasi sales dan marketing). Clay bahkan sudah menjalankan dua tender dalam sembilan bulan terakhir.

Fenomena ini bisa terjadi karena investor bersedia membeli lebih banyak ekuitas perusahaan rintisan bertumbuh tinggi — bahkan dengan harga premium — dengan taruhan bahwa valuasi bisnis akan naik signifikan di masa depan.

Pendekatan Self-Driving yang Berbeda: Belajar Layaknya Manusia

Wayve menggunakan pendekatan self-learning dalam mengembangkan sistem otonomnya. Alih-alih mengandalkan peta definisi tinggi (HD maps) yang sudah dibangun sebelumnya — seperti yang dilakukan sebagian besar program self-driving — perangkat lunak Wayve adalah jaringan saraf end-to-end yang belajar mengemudi murni dari data. Pendiri perusahaan menyebut metode ini lebih mendekati cara manusia belajar menyetir: melalui pengalaman langsung.

Dalam setahun terakhir, Wayve menggandakan jumlah karyawannya menjadi 1.200 orang. Targetnya adalah menciptakan "AI driver serba guna" yang secara teori bisa bekerja di berbagai negara, jenis mobil, dan kondisi jalan.

Rencana Komersialisasi: Uber dan Nissan Jadi Mitra Awal

Wayve menargetkan uji coba robotaxi secara terbatas bersama Uber pada akhir tahun ini. Secara terpisah, perusahaan juga berencana mengintegrasikan perangkat lunak AI-nya ke dalam sistem driver-assist generasi terbaru Nissan mulai tahun 2027. Jika berhasil, kolaborasi ini bisa menjadi langkah awal Wayve untuk masuk ke pasar kendaraan konsumen secara massal — termasuk potensi masuk ke Indonesia dalam jangka panjang.

Bagi pengamat industri, pendekatan Wayve yang tidak bergantung pada peta definisi tinggi bisa menjadi keunggulan kompetitif di pasar negara berkembang seperti Indonesia, di mana infrastruktur jalan dan kualitas peta digital masih belum seragam.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks