KUPANG — Hamparan Savana Fulan Fehan di perbatasan berubah menjadi pusat aktivitas ribuan orang. Festival yang bertajuk "Dance for Friendship" itu menampilkan Tari Likurai Kolosal yang dibawakan oleh ribuan penari dengan latar belakang Gunung Lakaan yang megah. Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Muhammad Tito Karnavian, serta delegasi dari Timor Leste dan Australia.
Dari Ritual Leluhur Menjadi Panggung Ekonomi Rakyat
Melki Laka Lena menegaskan bahwa kekuatan NTT tidak hanya terletak pada panorama alamnya. "NTT bukan hanya tentang alam yang indah. NTT adalah tentang budaya yang hidup, masyarakat yang ramah, dan tradisi yang mampu menghubungkan dunia," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Kupang, Minggu.
Menurutnya, Tari Likurai yang dibawakan secara masal bukanlah sekadar tontonan. Gerakan para penari, suara tifa, dan langkah kaki yang kompak membawa cerita leluhur Pulau Timor ke mata dunia. "Di hamparan savana yang luar biasa ini, ribuan penari menghadirkan Tari Likurai Kolosal. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi pesan bahwa budaya mampu menyatukan kita," kata Melki.
UMKM Lokal Kebagian Rezeki dari Gelaran Festival
Dampak ekonomi dari festival ini sudah terasa langsung di lapangan. Ratusan pelaku UMKM dari Kabupaten Belu dan sekitarnya memadati area savana untuk menjajakan produk mereka. Tenun ikat khas Timor, aneka kuliner lokal, serta kerajinan tangan menjadi komoditas yang paling banyak diburu oleh pengunjung dan delegasi asing.
Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen untuk menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan yang lebih besar. Melki mengaku telah menyampaikan langsung kepada Mendagri Tito Karnavian bahwa Pemprov akan mendukung penuh penyelenggaraan acara ini ke depan. "Proficiat untuk Pemerintah Kabupaten Belu dan masyarakat Belu. Kami berkomitmen mendukung festival ini terus berjalan setiap tahun," pungkasnya.