KUPANG — Harga Pertalite yang mencapai Rp25 ribu per liter dan sulitnya mendapatkan elpiji menjadi keluhan utama warga Amfoang saat Wapres Gibran Rakabuming Raka blusukan ke wilayah itu, Jumat (22/5/2026). Kedatangan Wapres yang menggunakan helikopter dan tiba pukul 13.27 WITA itu disambut antusias warga dengan tarian adat khas Amfoang.
Dalam dialog di depan rumah Pastori Jemaat Bethesda Oelamopu, Gibran langsung menanyakan harga BBM yang beredar di tingkat pengecer. Warga serempak menjawab harga Pertalite tembus Rp25 ribu per liter akibat distribusi yang terhambat akses jalan rusak.
“Kalau beli Pertalite sekarang berapa?” tanya Gibran kepada warga.
“Rp25 ribu per liter,” jawab warga serempak.
Pemerintah Pastikan Koordinasi dengan Pertamina
Menanggapi keluhan itu, Gibran memastikan pemerintah akan segera berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan Pertamina untuk mencari solusi distribusi BBM. Warga juga mengaku masih mengandalkan kayu bakar dan minyak tanah untuk memasak karena elpiji sulit didapat.
“Masalah utamanya memang BBM. Setelah ini kami akan koordinasikan dengan Kementerian ESDM dan Pertamina,” ujar Gibran.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, membenarkan bahwa distribusi BBM ke Amfoang masih terkendala akses jalan yang rusak berat selama bertahun-tahun.
Dua Jembatan Vital Putus Diterjang Banjir
Selain soal BBM, Gibran juga meninjau dua jembatan utama yang rusak parah akibat banjir, yakni Jembatan Termanu dan Kali Kapsali. Kedua jembatan itu merupakan jalur utama aktivitas ekonomi dan transportasi masyarakat Amfoang.
“Saya lihat kerusakannya cukup parah,” katanya saat meninjau lokasi.
Kunjungan ke Amfoang dilakukan setelah adanya aspirasi dari mahasiswa Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kupang yang sebelumnya menyampaikan persoalan isolasi wilayah akibat putusnya dua jembatan tersebut.
Gibran Tegaskan Pembangunan Tak Lagi Jawa-Sentris
Dalam kesempatan itu, Gibran menegaskan bahwa pembangunan nasional kini tidak lagi berfokus di Pulau Jawa. Pemerintah berkomitmen menerapkan pembangunan Indonesia-sentris, termasuk memberi perhatian lebih kepada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar seperti NTT.
“Sekarang sudah tidak ada lagi pembangunan Jawa-sentris. Yang dibangun adalah Indonesia secara menyeluruh, termasuk NTT,” tegasnya.
Tinjau Industri Garam Nasional di Rote Ndao
Usai dari Amfoang, Gibran melanjutkan kunjungan ke Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao. Di lokasi, ia memantau pengembangan industri garam nasional dan berdialog dengan petani garam serta pemerintah daerah setempat.
Menurut Gibran, proyek pengembangan garam di Rote Ndao memiliki peran strategis dalam mendukung program swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sektor perikanan dan kelautan, termasuk pembangunan cold storage, pabrik es slurry ice, serta SPBU khusus nelayan.
“Kita ingin membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya agar warga lokal terbantu dan kesejahteraannya meningkat,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran juga menerima laporan terkait kondisi pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan revitalisasi puskesmas dan fasilitas rumah sakit daerah di Rote Ndao.