Pencarian

Dapur Tara di Labuan Bajo, Resto Kebun Tanpa Sinyal yang Sajikan Warisan Rasa Flores dengan Kayu Bakar

Minggu, 12 Juli 2026 • 13:50:31 WIB
Dapur Tara di Labuan Bajo, Resto Kebun Tanpa Sinyal yang Sajikan Warisan Rasa Flores dengan Kayu Bakar
Dapur Tara di Labuan Bajo sajikan kuliner tradisional Flores dengan cara memasak menggunakan kayu bakar.

LABUAN BAJO — Di tengah gemerlapnya paket wisata bahari ke Pulau Padar dan Taman Nasional Komodo, ada satu sudut di Labuan Bajo yang justru menarik pengunjung dengan kesunyian dan kesederhanaan. Namanya Dapur Tara, sebuah dapur tradisional yang dikelola oleh Elisabet Yani Tararubi bersama 15 anggota komunitas di Desa Melo, Liang Ndara, Manggarai Barat.

Berbeda dengan resto pada umumnya, Dapur Tara tidak menyediakan kursi. Semua tamu duduk lesehan di lantai ruang makan, persis seperti tradisi masyarakat Flores. “Setelah semua matang, kita makan di sini duduk bersama. Tidak ada kursi, sesuai dengan tradisi kami,” ujar Elisabet yang akrab disapa Kak Liz.

Menu Asap dan Bambu yang Dimasak Berjam-jam

Dapur Tara menyajikan aneka menu khas Flores yang diracik dari bahan-bahan kebun sekitar. Ayam asap, nasi hang kolo yang dimasak di dalam bambu, nasi merah, sup ayam gosa gora, hingga sambal nanas menjadi andalan. Semua dimasak menggunakan api kayu bakar dengan resep tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kami menyediakan kuliner khas lokal yang kami masak sendiri dari bahan-bahan yang ada di kebun. Semua dikerjakan sesuai dengan kebiasaan kami di Flores seperti yang dilakukan orang-orang terdahulu,” kata Liz.

Wisatawan yang datang tidak hanya menyantap hidangan, tetapi juga bisa ikut meracik menu dalam paket wisata gastronomi. Proses memasak yang memakan waktu berjam-jam menjadi pengalaman tersendiri di era serba instan.

Detoks Digital di Tengah Hutan Flores

Dapur Tara menawarkan pengalaman menginap yang jauh dari peradaban digital. Tidak ada sinyal telepon seluler di area ini, dan akses masuk hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari jalan utama Trans Flores. “Saya sering sampaikan, jika mereka punya pekerjaan yang harus terhubung ke internet, mereka harus menyelesaikannya sebelum menginap di sini,” ujar Liz.

Meski akses terbatas, dalam setahun Dapur Tara mampu menarik hingga 2.000 tamu yang menginap, mayoritas berasal dari Australia dan Eropa. Jika tamu menginap dalam waktu lama, Liz kerap mengajak mereka mengikuti acara adat lengkap dengan busana daerah seperti sarung.

Menggerakkan Ekonomi Desa Sekitar

Keberadaan Dapur Tara tidak hanya menghidupkan Desa Melo, tetapi juga desa-desa di sekitarnya. Ketika permintaan tamu meningkat, Liz dan komunitasnya mencari pasokan bahan makanan mentah dari desa lain. “Kalau kebetulan tamu banyak, kami akan cari ke desa lain pasokan makanan mentahnya untuk diolah dan disajikan di sini,” kata Liz.

Dapur Tara mulai beroperasi pada awal 2019, sebelum pandemi. Liz, yang sebelumnya bekerja di Bali, merasa terpanggil mengembangkan wisata di daerah asalnya untuk merawat tradisi yang mulai ditinggalkan kaum muda. Ke depannya, ia berencana membuka sekolah berbasis alam untuk mengenalkan budaya Flores ke generasi berikutnya.

Dapur Tara baru-baru ini menjadi lokasi kunjungan sembilan pengelola desa wisata binaan BCA untuk bertukar pengalaman dalam mengelola wisata berbasis kekayaan daerah. “Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa,” kata EVP Corporate BCA dalam kesempatan tersebut.

Bagikan
Sumber: idxchannel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks