NUSA TENGGARA TIMUR — Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia menetapkan bahwa seluruh kendaraan listrik Completely Built-Up (CBU) yang masuk ke Malaysia wajib memenuhi dua syarat utama. Pertama, nilai biaya, asuransi, dan ongkos angkut (CIF) tidak boleh kurang dari 200.000 ringgit atau setara Rp882,6 juta. Kedua, daya motor listriknya minimal 180 kW (sekitar 241 hp).
Kebijakan ini langsung berdampak pada produsen China yang selama ini menguasai pasar EV Malaysia. Data Departemen Transportasi Jalan Malaysia menunjukkan merek-merek asal China, kecuali Proton yang dimiliki Geely, menguasai sekitar 60 persen pasar kendaraan energi baru di Malaysia pada 2025.
Jajaran BYD Paling Terpukul
BYD menjadi produsen yang paling terpukul oleh aturan baru ini. Seluruh tujuh model BYD yang dijual di Malaysia saat ini memiliki harga awal di bawah 200.000 ringgit. Varian dasar Dolphin dan Atto 3 bahkan memiliki daya motor di bawah ketentuan 180 kW.
Model populer lain seperti Zeekr 7X dan Chery Omoda E5 juga tidak memenuhi syarat impor berdasarkan aturan terbaru pemerintah Malaysia. Dengan harga jual akhir yang mencakup pajak, biaya operasional, dan margin keuntungan, kendaraan yang lolos seleksi diperkirakan dijual jauh di atas 200.000 ringgit.
Produksi Lokal Jadi Solusi, Tapi Ada Syarat Ketat
Beberapa produsen China mulai mempertimbangkan perakitan lokal untuk menghindari pembatasan impor. Namun pemerintah Malaysia menetapkan persyaratan ketat bagi proyek manufaktur baru yang disetujui setelah 1 September 2025. Harga kendaraan produksi lokal minimum harus 100.000 ringgit (sekitar Rp441,3 juta), sedikitnya 80 persen dari total produksi wajib diekspor, dan penjualan dalam negeri dibatasi maksimal 20 persen.
Proses pengelasan, pengecatan, dan perakitan akhir juga harus dilakukan di Malaysia sebagai syarat lokalisasi bernilai tinggi. Aturan ini membuat opsi produksi lokal tidak semudah yang dibayangkan.
Kemitraan dengan Fasilitas Eksisting Jadi Celah
Beberapa perusahaan memanfaatkan kemitraan dengan pabrik lokal yang sudah beroperasi. Leapmotor pada Juni 2026 mulai merakit model C10 secara lokal di pabrik Kedah menggunakan fasilitas manufaktur Stellantis. Xpeng juga mengumumkan produksi model G6 versi setir kanan melalui kerja sama dengan produsen lokal EPMB.
Karena menggunakan infrastruktur manufaktur yang sudah tersedia, bukan membangun proyek baru, keduanya tidak dikenai kewajiban mengekspor 80 persen dari total produksi. Ini menjadi celah strategis bagi produsen China untuk tetap bertahan di pasar Malaysia.
Pemerintah Malaysia menyatakan kebijakan baru ini bertujuan mendorong investasi berkualitas tinggi, alih teknologi, dan pengembangan rantai pasok lokal dengan meniru model industri yang dibangun Proton dan Perodua.