KUPANG — Perlindungan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang Nusa Tenggara Timur meminta seluruh rumah sakit di provinsi itu mengevaluasi sistem keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga kesehatan. Permintaan ini menyusul meninggalnya dr Eliza Priscila Utami Pakaenoni atau dr Icha yang disebut sebagai puncak dari rangkaian tekanan yang selama ini dihadapi dokter di lapangan.
Lima Tuntutan PDUI untuk Rumah Sakit di NTT
Ketua PDUI Cabang NTT, Teda Littik, menyampaikan lima poin utama yang harus segera dijalankan rumah sakit. Pertama, memastikan tersedianya prosedur keamanan yang memadai dan menjamin kecukupan sumber daya manusia, termasuk petugas keamanan, serta sarana pendukung.
Kedua, penataan beban kerja, jadwal dinas, dan waktu istirahat tenaga kesehatan sesuai ketentuan untuk menekan risiko kelelahan fisik maupun mental. Ketiga, penyediaan layanan kesehatan jiwa, konseling, dan dukungan psikososial yang mudah diakses dengan tetap menjaga kerahasiaan.
"Jangan sampai manajemen mendapat tekanan dari pihak tertentu, kemudian tekanan itu diteruskan kepada dokter. Hal seperti itu tidak boleh terjadi," ujar Teda dalam konferensi pers di Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Kupang.
"Waktu Patah Hati" bagi Dokter di Flobamora
Teda menegaskan bahwa peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi di NTT. Selama sembilan tahun bertugas di instalasi gawat darurat, ia mengaku pernah mengalami situasi serupa. Namun, kali ini berujung fatal.
"Waktu-waktu ini bagi kami dokter adalah waktu patah hati. Ini bukan peristiwa yang pertama di Indonesia maupun di tanah Flobamora. Kejadian ini terus berulang dan kali ini sangat fatal," katanya.
PDUI menilai keselamatan tenaga kesehatan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem manajemen mutu dan manajemen risiko di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Organisasi profesi itu juga mendorong terciptanya lingkungan kerja yang bebas dari intimidasi, perundungan, ancaman, maupun bentuk tekanan lainnya.
Belasungkawa untuk Keluarga dr Icha
PDUI NTT menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga almarhumah, terutama kedua orang tua dan saudara-saudara dr Icha. "Kami turut merasakan duka cita yang mendalam. Kami berdoa agar Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan kepada keluarga," ujar Teda.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak rumah sakit tempat dr Icha bertugas maupun dari aparat penegak hukum terkait proses penyelidikan kasus tersebut.