KUPANG — Ernestus Holivil, dosen Administrasi Publik Universitas Nusa Cendana (Undana), menilai lembaga pendidikan formal saat ini semakin birokratis dan terjebak dalam logika pasar. Ia pun mendorong mahasiswa membangun jaringan belajar yang organik dan berbasis komunitas.
“Kita sudah terlalu lama percaya bahwa belajar hanya bisa terjadi di dalam tembok sekolah,” kata Ernestus dalam seminar “Pendidikan Berkeadilan: Refleksi Hardiknas dalam Realitas Krisis yang Tersisihkan” di Aula Claretian Matani, 16 Mei lalu. “Padahal, komunitas, perpustakaan, ruang diskusi sosial semua itu adalah ruang belajar yang sama sahnya.”
Pendidikan Tersandera Logika Pasar
Ernestus menyebut fenomena “sakralisasi sekolah” sebagai akar persoalan — keyakinan kolektif bahwa institusi pendidikan formal adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Menurutnya, tujuan pendidikan telah bergeser dari esensinya karena tersandera kapitalisme.
“Pertanyaan yang paling sering didengar anak muda hari ini adalah: ‘setelah lulus mau kerja di mana? Bukan: setelah lulus, ingin jadi manusia seperti apa?’” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan sejati tidak diukur dari berapa banyak lulusan yang terserap pasar kerja, melainkan dari seberapa merdeka cara berpikir para lulusannya. “Banyak yang kita anggap normal dalam dunia pendidikan, sebenarnya tidak normal kalau kita mau jujur dan kritis,” tegas Ernestus.
“Ujian yang menjadi penentu masa depan, gelar sebagai ukuran kepintaran, institusi sebagai penjaga gerbang pengetahuan, semua ini perlu kita pertanyakan.”
‘Stunting Pikiran’ Lebih Berbahaya dari Stunting Fisik
Gusti Rikarno, Direktur Rumah Literasi Cakrawala NTT yang juga menjadi pembicara, menyoroti fenomena “stunting pikiran” — keterbatasan cara berpikir yang menghambat kemajuan. Ia menyebut kondisi ini kerap tidak disadari penderitanya dan diwariskan antargenerasi.
“Kalau stunting pikiran itu masuk ke dalam kepala seorang pengambil keputusan, maka yang lahir adalah kebijakan yang hanya mencari status dan komisi, bukan solusi,” kata Gusti.
Ia memaparkan data pendidikan NTT 2025: 28.919 anak putus sekolah dan 99.329 anak belum pernah mengenyam pendidikan. “Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cermin dari siapa kita dan apa yang sudah atau belum kita lakukan,” katanya.
Ajakan Menjadi Pelaku Perubahan
Kedua pembicara sepakat bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton data dan kritikus pendidikan. Mereka mendorong mahasiswa menjadi pelaku perubahan yang membangun ruang belajar alternatif, kritis, dan merdeka.
Gusti menekankan perubahan pendidikan harus dimulai dari dalam diri. “Ketika ada pikiran kotor yang belum dibersihkan, sampah itu akan terus muncul kembali, seberapapun kita berusaha merapikan yang di luar,” ujarnya.
Seminar yang diinisiasi Ikatan Mahasiswa Pelajar Satarmese (IMPS) Kupang ini menghadirkan Yopin Narlin, mahasiswi Administrasi Negara Undana, sebagai moderator. Ernestus Holivil menutup diskusi dengan pesan: “Yang paling penting bukan seberapa banyak gelar yang kamu miliki, tapi seberapa sering kamu berani mempertanyakan apa yang kamu tahu dan apa yang kamu lakukan.”