RUTENG — Angka produktivitas kopi di Manggarai, khususnya varietas Colol, saat ini hanya berkisar 200–300 kilogram per hektare. Capaian itu jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 610 kilogram per hektare dan bahkan lebih rendah dari rata-rata Provinsi NTT sebesar 331 kilogram per hektare.
Tren penurunan ini konsisten sejak 2021 dan diperparah oleh tiga faktor utama: kemarau yang makin panjang, hujan ekstrem yang memicu erosi, serta konversi lahan yang mengurangi pohon pelindung.
Petani Baru Paham Setelah Pelatihan, Bukan Karena Tak Merasakan
Penulis Arief Laga yang memfasilitasi pelatihan di Desa Gelong mengaku asumsinya runtuh sejak hari pertama. Ia datang dengan keyakinan bahwa persoalan utama kopi Manggarai ada di sisi pemasaran.
"Saya datang dengan asumsi umum: bahwa persoalan kopi Manggarai adalah soal pasar — soal bagaimana membawa produk ini lebih jauh dari sekadar komoditas lokal. Asumsi itu runtuh sejak hari pertama," tulisnya dalam laporan yang diterbitkan Floresa.
Petani di Gelong baru menghubungkan perubahan musim dengan produktivitas kopi setelah sesi pelatihan. Sebelumnya, mereka menganggap kemarau panjang dan hujan ekstrem sebagai "nasib alam" yang harus diterima begitu saja.
Antara Festival Mewah dan Kebun yang Tak Terawat
Ironi terbesar terjadi di sisi hilir. Pemerintah daerah dan berbagai pihak terus menggelar festival kopi, merancang ulang kemasan, serta membangun citra premium kopi Manggarai. Namun, di kebun, kondisi justru sebaliknya.
Mayoritas petani masih mengelola tanaman dengan metode warisan turun-temurun. Tanaman kopi berusia puluhan tahun tidak pernah diremajakan, dipetik tanpa seleksi, dan diolah secara tradisional tanpa pemupukan atau konservasi tanah.
"Teknik sesederhana biopori — metode dasar konservasi air — masih menjadi pengetahuan baru bagi sebagian petani," kata Arief Laga.
Pendampingan Teknis yang Datang dan Pergi
Persoalan mendasar ada pada sistem pendampingan. Pelatihan datang sebagai program, bukan sebagai proses berkelanjutan. Begitu selesai satu siklus anggaran, selesai pula perhatian terhadap kebun.
Fenomena "petani turis" turut memperparah situasi. Banyak pihak hanya datang ke kebun saat panen tiba, tanpa hadir merawat tanaman sepanjang tahun. Akibatnya, kualitas dan kuantitas panen terus merosot sementara narasi di luar terus menggembungkan harapan.
Petani Siap Berubah, Tapi Sistem Tak Hadir Konsisten
Yang paling mencolok dari kunjungan ke Desa Gelong adalah antusiasme petani saat berdiskusi. Mereka bertanya, berbagi pengalaman, dan mulai menghubungkan gejala di kebun dengan penjelasan tentang perubahan iklim.
"Mereka ingin belajar. Mereka ingin memperbaiki kebun. Mereka ingin kopi Manggarai tetap hidup. Masalahnya bukan pada kemauan mereka, tapi sistem yang tidak pernah hadir secara konsisten untuk mereka," tulis Arief.
Produktivitas kopi Manggarai yang terus merosot menjadi alarm bahwa perayaan di hilir tanpa penguatan hulu hanya akan menyisakan kebun yang mati perlahan. Petani sudah siap berubah — tinggal menunggu komitmen jangka panjang dari semua pihak yang selama ini sibuk merayakan kemasan.