SIKKA — Yustina Yuniarti memulai perjalanannya sebelum matahari meninggi. Dari rumahnya, ia menapaki jalan setapak berbatu, melintasi hutan kecil, dan turun naik bukit selama hampir dua jam. Tujuannya satu: tiba di SDK Wukur, sekolah yang menjadi saksi bisu pengabdiannya sejak 2015.
"Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati," ujar Yustina, Selasa (19/5/2026).
Medan Ekstrem dan Gaji Pas-pasan, tapi Tak Padamkan Semangat
SDK Wukur berada di pedalaman Kabupaten Sikka. Akses transportasi nyaris tak ada. Jalan aspal hanya mimpi. Setiap musim hujan, tanah merah berubah licin, menambah risiko bagi siapa pun yang melintas. Namun, Yustina dan tujuh guru lainnya tetap datang.
Gaji honorer yang jauh dari kata layak tak menyurutkan langkahnya. Selama lebih dari satu dekade, ia bertahan dengan keyakinan bahwa anak-anak di kampungnya berhak mendapat pendidikan yang layak. "Proses belajar-mengajar di ruang kelas yang sederhana ini adalah ketulusan yang harus terus dirawat," katanya.
BUMN Beri Dukungan: Bukan Sekadar Santunan
Kisah Yustina akhirnya mendapat perhatian. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Peduli memberikan santunan dan dukungan sosial kepada guru honorer tersebut. Bantuan ini diharapkan meringankan beban ekonomi Yustina sekaligus menjadi penyemangat bagi tenaga pendidik lain di daerah terpencil.
"Dukungan ini sangat berarti, bukan hanya untuk saya, tetapi juga menjadi semangat baru agar saya bisa terus mengajar anak-anak di sini. Semoga perhatian seperti ini membuat kami semakin kuat untuk tetap menjalankan tugas dengan hati," ungkap Yustina.
Pemberdayaan Tak Hanya di Sektor UMKM
Bagi manajemen PNM, perjuangan Yustina menjadi pengingat bahwa esensi pemberdayaan masyarakat tidak berputar di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah semata. Pemberdayaan sejati, menurut mereka, juga hidup di ruang-ruang kelas sederhana tempat masa depan generasi penerus dipertaruhkan.
Di SDK Wukur, 34 siswa masih menunggu. Mereka datang setiap pagi, duduk di bangku kayu yang mulai lapuk, dan membuka buku tulis usang. Yustina ada di sana, dengan sepatu lusuh dan senyum yang tak pernah pudar, menjaga nyala pendidikan di ujung timur Indonesia.