JAKARTA — Harga CPO kembali tertekan pada Kamis (21/5/2026) setelah pidato Presiden Prabowo Subianto yang mengumumkan rencana pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia. BUMN khusus ini nantinya akan menjadi satu-satunya pintu ekspor untuk komoditas seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan besi fero alloy.
Harga CPO di bursa Malaysia ditutup melemah 0,56% ke level MYR 4.556 per ton, memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya juga turun 0,05% ke MYR 4.583 per ton. Pelaku pasar masih wait and see menunggu kejelasan implementasi aturan baru tersebut.
Mengapa Pasar Khawatir dengan Skema Ekspor Satu Pintu?
Kekhawatiran utama pasar adalah perubahan fundamental dalam struktur perdagangan sawit Indonesia yang selama ini berbasis pasar dan melibatkan banyak eksportir. Mekanisme baru ini dinilai berpotensi memperlambat distribusi dan menimbulkan ketidakpastian bagi pembeli global.
Selain itu, pemerintah sebelumnya telah menyerahkan sekitar 4,12 juta hektare lahan sawit kepada Agrinas Palma Nusantara sebagai bagian dari penertiban perkebunan ilegal. Langkah ini memperkuat sinyal pengawasan ketat negara terhadap sektor sawit nasional.
Malaysia Disebut Bakal Jadi Alternatif Utama, Tapi Tak Sepenuhnya Aman
M.R. Chandran, mantan ketua Malaysian Palm Oil Association, menilai pembeli global kemungkinan mulai mencari pemasok yang lebih stabil dan memiliki risiko intervensi pemerintah lebih kecil. "Malaysia bisa menjadi alternatif utama bagi importir global apabila pasar menilai mekanisme ekspor Indonesia berpotensi memperlambat distribusi sawit dunia," ujarnya.
Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, juga mengatakan pembeli kemungkinan akan mengalihkan sebagian permintaan sementara ke Malaysia sampai implementasi aturan Indonesia lebih jelas.
Namun, kondisi industri sawit Malaysia sendiri belum sepenuhnya kuat. Data ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-20 Mei tercatat turun sekitar 13,9% hingga 20,5% dibanding bulan sebelumnya, menunjukkan permintaan global masih berhati-hati.
Fakta Singkat: Kondisi Pasar Sawit Global Saat Ini
- Harga CPO melemah 0,56% ke MYR 4.556 per ton pada Kamis (21/5/2026).
- Ekspor minyak sawit Malaysia turun 13,9% hingga 20,5% pada 1-20 Mei 2026.
- Nilai tukar ringgit Malaysia menguat 0,18% terhadap dolar AS, membuat harga sawit Malaysia lebih mahal bagi pembeli asing.
- Produsen sawit Malaysia mulai mengurangi aktivitas replanting akibat kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar.
Dampak Jangka Panjang: Ancaman Pasokan Global
Di sisi produksi, produsen sawit Malaysia mulai menunda replanting akibat kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar. Penundaan ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi keberlanjutan pasokan minyak sawit global dalam jangka panjang.
Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia untuk pengiriman Agustus tercatat ditutup nyaris stagnan. Pasar masih menunggu dampak nyata dari kebijakan ekspor baru Indonesia serta perkembangan kondisi global lainnya sebelum menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.