NUSA TENGGARA TIMUR — Indonesia dan Mesir menargetkan nilai perdagangan bilateral menembus US$5 miliar pada 2030, naik dari posisi saat ini yang masih jauh di bawah potensi kedua negara. Kesepakatan itu dicapai dalam kunjungan kenegaraan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi ke Jakarta, Minggu (11/10), yang juga menghasilkan pembebasan visa dan pembentukan Joint Investment Fund. Bagi pelaku usaha, pakta ini membuka jalur ekspansi ke kawasan Arab, Afrika, dan Eropa lewat Mesir sebagai pintu masuk.
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyepakati penguatan kerja sama bilateral yang mencakup ekonomi, perdagangan, investasi, hingga pertahanan. Target perdagangan US$5 miliar pada 2030 menjadi angka paling konkret dari pertemuan di Jakarta tersebut.
Kedua negara juga mendorong pembentukan Economic Partnership Agreement untuk memperluas akses pasar dan peluang investasi bagi pelaku usaha Indonesia dan Mesir. Prabowo menyebut kerja sama ekonomi, khususnya perdagangan dan investasi, sebagai salah satu pilar utama kesepakatan.
Joint Investment Fund untuk Proyek Strategis
Lembaga investasi kedua negara menyambut inisiatif pembentukan Joint Investment Fund yang diarahkan membiayai proyek-proyek strategis. Prabowo menyatakan dukungannya atas skema pendanaan bersama tersebut.
"Saya juga menyambut baik inisiatif membentuk Joint Investment Fund oleh lembaga investasi kedua negara kita untuk mendorong investasi pada proyek-proyek strategis," ujar Prabowo dalam pernyataan pers bersama di Jakarta, Minggu (11/10).
El-Sisi menambahkan bahwa kedua negara membahas peluang proyek prioritas dan perluasan investasi lintas negara. Menurutnya, Mesir dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk memperluas pasar di kawasan Arab, Afrika, dan Eropa.
Lima Kesepakatan Turunan dari Kunjungan Kenegaraan
Selain target perdagangan dan skema investasi, Indonesia dan Mesir menandatangani sejumlah kerja sama teknis:
- Pembebasan visa bagi pemegang paspor kedua negara
- Kerja sama di bidang statistik
- Kerja sama perikanan
- Rencana aksi (plan of action) peningkatan kemitraan strategis Indonesia-Mesir
Pembebasan visa dinilai menjadi pendorong paling langsung bagi mobilitas pelaku bisnis kedua negara. Selama ini, hambatan administratif perjalanan menjadi salah satu keluhan utama eksportir dan investor yang hendak menjajaki pasar baru.
Hambatan Perdagangan Jadi Fokus Negosiasi
El-Sisi menegaskan komitmen untuk menghapus berbagai hambatan perdagangan yang selama ini menekan volume transaksi bilateral. Fokus khusus diberikan pada kerja sama ekonomi dan bisnis sesuai kapasitas kedua negara.
"Kami sepakat untuk memberikan perhatian khusus pada kerja sama ekonomi dan bisnis, sesuai dengan kemampuan kedua negara yang begitu besar, serta meningkatkan nilai perdagangan hingga US$5 miliar pada 2030 dengan melanjutkan semua upaya untuk menghilangkan berbagai hambatan," ujar El-Sisi.
Dari sisi Prabowo, prioritas serupa ditegaskan pada sektor perdagangan dan investasi sebagai mesin utama hubungan bilateral.
"Kami juga sepakat untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, bidang ekonomi, terutama bidang perdagangan, investasi," ujar Prabowo.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha Indonesia
Bagi eksportir Indonesia, Mesir menawarkan posisi geografis yang strategis sebagai gerbang ke pasar Afrika Utara dan Timur Tengah. Produk yang berpotensi diuntungkan mencakup CPO, karet, tekstil, hingga makanan olahan yang selama ini sudah menembus pasar Mesir dalam volume terbatas.
Bagi investor, pembentukan Joint Investment Fund membuka opsi pendanaan bersama untuk proyek infrastruktur, energi, dan manufaktur. Skema ini memungkinkan lembaga investasi kedua negara berbagi risiko pada proyek yang selama ini sulit dibiayai sepihak.
Realisasi target US$5 miliar pada 2030 akan bergantung pada kecepatan penyelesaian Economic Partnership Agreement dan efektivitas penghapusan hambatan non-tarif. Tanpa keduanya, target tersebut berisiko berhenti sebagai komitmen politik tanpa dampak ekonomi yang terukur.