KUPANG — Potensi perikanan tangkap NTT yang sudah menembus pasar ekspor Jepang dinilai belum sepenuhnya mendongkrak ekonomi daerah. Pasalnya, sebagian besar hasil laut masih dijual dalam bentuk bahan mentah tanpa melalui proses pengolahan yang memberikan nilai tambah.
Produk Olahan Kalah Saing dengan Tenun dan Kelor
Dr. Chairul Pua Tingga dalam program Obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang, Rabu (8/7/2026), mengungkapkan bahwa produk olahan perikanan lokal seperti abon ikan dan dendeng ikan masih sulit bersaing. Produk-produk itu kalah populer dibandingkan kain tenun atau olahan kelor sebagai oleh-oleh khas NTT.
“Paradigma yang keliru adalah menganggap pemasaran itu sama dengan penjualan. Penjualan hanya berorientasi agar produk laku hari ini, tanpa peduli konsumen suka atau tidak. Sedangkan pemasaran berorientasi pasar, melihat kebutuhan, keinginan, dan daya beli konsumen,” jelasnya.
Ikan Melimpah di Adonara Timur Terbuang Jadi Pakan Ternak Mentah
Salah satu contoh nyata adalah fenomena overfishing di Adonara Timur. Komoditas seperti ikan tembang melimpah hingga terbuang atau hanya dijadikan pakan ternak mentah. Padahal, kata Dr. Chairul, dengan hilirisasi, ikan tersebut bisa diproses menjadi pakan ternak industri atau produk konsumsi bernilai jual tinggi.
“Kalau untuk perikanan tangkap, potensinya sangat bagus bahkan sudah diekspor ke Jepang melalui perusahaan besar di Teno dan Oeba. Namun, yang masih kurang di NTT adalah hilirisasi dan pengembangan produk olahan oleh UMKM lokal,” ujarnya.
Solusi Triple Helix: Kolaborasi Pemerintah, Industri, dan Kampus
Untuk mengatasi kesenjangan ini, Dr. Chairul yang menyelesaikan riset disertasinya mengenai UMKM perikanan di Kota Kupang menawarkan model kolaborasi lintas aktor. Ia menyebutnya sebagai kolaborasi triple helix yang melibatkan tiga pilar utama.
“Solusinya adalah kolaborasi triple helix. Kolaborasi antara pemerintah, dunia industri dan akademisi dengan kampus seperti itu. Tujuannya untuk mengembangkan produk-produk UMKM perikanan, karena potensinya sangat besar sekali, dan dapat memberi nilai tambah pada setiap produk perikanan yang melimpah ini,” katanya.
Dalam model ini, pemerintah berperan menyiapkan regulasi dan stimulus modal. Pelaku UMKM bertindak sebagai produsen, sementara akademisi perguruan tinggi melakukan riset pasar dan evaluasi berkala. Sinergi ini diyakini mampu mendongkrak ekonomi biru NTT secara berkelanjutan.