SIKKA — Sebanyak 32 siswa kelas I, II, III, dan IV SD Kelas Jauh Bora Blupur kini mengikuti pelajaran di bawah tenda darurat. Bangunan permanen yang mereka gunakan sebelumnya roboh akibat angin kencang pada Januari 2025.
Kepala SD Bora Blupur, Vakerianus, mengungkapkan bahwa bangunan yang roboh tersebut dibangun secara swadaya oleh para orangtua siswa enam tahun lalu. Hingga kini, upaya membangun kembali ruang kelas darurat terkendala biaya.
Belajar di Tenda Setelah Setahun Mengungsi ke Rumah Warga
Vakerianus menjelaskan, sebelum tenda darurat tersedia, para siswa sempat belajar di rumah-rumah warga. Namun, lokasi rumah yang digunakan cukup jauh dari pemukiman, menyulitkan siswa dan guru.
“Bangunan kelas roboh sejak Januari 2025,” ujar Vakerianus saat dihubungi, Kamis (9/7/2026).
Sementara itu, siswa kelas V dan VI masih bisa belajar di satu ruangan permanen yang tersisa. Ruangan tersebut disekat untuk dua kelas.
Fasilitas Minim: Perpustakaan dan Penunjang Lain Tidak Ada
Selain ruang kelas yang rusak, sekolah ini juga kekurangan fasilitas penunjang. Vakerianus menyebut perpustakaan tidak tersedia sama sekali, begitu pula dengan fasilitas lain yang masih sangat minim.
“Perpustakaan tidak ada, fasilitas lain masih kurang sama sekali,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan betapa terbatasnya akses pendidikan di daerah pedalaman Sikka. Para siswa dan guru bertahan dengan sumber daya seadanya.
Harapan Uluran Tangan Pemerintah untuk Bangun Kembali Sekolah
Vakerianus berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memberikan bantuan. Ia ingin para siswa bisa kembali merasakan kenyamanan dalam proses belajar mengajar di ruang kelas yang layak.
Pihak sekolah dan orangtua siswa telah berupaya membangun ruang kelas darurat, tetapi terkendala biaya. Hingga kini, belum ada kepastian kapan bantuan dari pemerintah daerah akan turun.
Keterbatasan ini menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di NTT, di mana infrastruktur dasar masih menjadi persoalan utama.