ROTE NDAO — Sebanyak 25 warga dari tiga desa di Kecamatan Rote Timur resmi mengikuti bimbingan teknis dan sertifikasi kompetensi pengelolaan garam yang digelar KKP. Mereka berasal dari Desa Matasio, Desa Serubeba, dan Desa Lakamola, ditambah lima orang dari Balai Besar Produksi Garam Kupang.
Bekal Apa Saja yang Diberikan ke Peserta?
Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajari teknik produksi garam. Mereka juga mendapat materi komunikasi efektif, pengoperasian peralatan produksi, hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Setelahnya, seluruh peserta mengikuti uji sertifikasi kompetensi.
"KKP membekali masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan sertifikasi kompetensi agar mereka dapat menjadi bagian dari pengelolaan industri garam nasional yang modern dan berdaya saing," kata Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Mengapa Warga Lokal Jadi Kunci Proyek Raksasa Ini?
K-SIGN bukan proyek kecil. Kawasan ini mencakup lahan seluas 10.764 hektare yang tersebar di 13 desa di tiga kecamatan: Landu Lenko, Pantai Baru, dan Rote Timur. Pemerintah menargetkan kawasan ini mampu menyerap sekitar 26 ribu tenaga kerja dan memangkas ketergantungan impor garam yang saat ini mencapai 60 persen dari kebutuhan nasional.
Frista menegaskan, keberhasilan pembangunan K-SIGN tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang kompeten. Pelatihan ini, menurutnya, menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat agar bisa mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan kawasan.
Dampak bagi Warga Pesisir Rote Ndao
Dengan sertifikasi ini, warga lokal diharapkan tidak hanya menjadi buruh, tetapi juga operator alat produksi dan pengawas mutu garam. KKP meyakini peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal akan membuka lapangan kerja baru, mendorong tumbuhnya usaha pendukung, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Rote Ndao.
Hingga berita ini diturunkan, ANTARA masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita mengenai progres operasional kawasan dan apakah K-SIGN telah mulai berproduksi.