KUPANG — Kantong warga Nusa Tenggara Timur (NTT) makin tertekan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT merilis data inflasi tahunan (year on year) Juni 2026 sebesar 3,56 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di angka 111,34. Angka ini naik signifikan dari inflasi tahunan Mei 2026 yang tercatat 2,76 persen.
Emas Perhiasan dan BBM Pemicu Utama Inflasi Tahunan
Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B. Kale menjelaskan, secara tahunan, komoditas emas perhiasan memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,77 persen. Disusul bahan bakar rumah tangga yang menyumbang 0,22 persen. "Komoditas lainnya yang mendorong inflasi tahunan adalah angkutan udara, ikan kembung, dan daging ayam ras," ujar Matamira di Kupang, Rabu.
Dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau, 10 kelompok mengalami kenaikan harga. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak paling tajam, mencapai 14,84 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,17 persen, serta transportasi naik 3,87 persen. Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks harga adalah pendidikan, minus 2,25 persen.
Bensin dan Oli Mesin Dorong Inflasi Bulanan
Tak hanya secara tahunan, tekanan harga juga terjadi secara bulanan (month to month). Inflasi bulanan Juni 2026 tercatat 0,67 persen, berbalik dari deflasi 0,26 persen pada Mei 2026. Secara tahun kalender (year to date), inflasi NTT sudah mencapai 2,20 persen.
BPS mencatat, inflasi bulanan terjadi di seluruh kota pantauan IHK. Maumere menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,13 persen, sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Ngada sebesar 0,23 persen. "Penyebab dominan inflasi bulanan adalah naiknya indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,98 persen, serta kelompok transportasi sebesar 1,25 persen," kata Matamira.
Komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah ikan tembang dengan andil 0,08 persen, diikuti pelumas atau oli mesin dan bensin yang masing-masing memberi andil 0,07 persen. Matamira menjelaskan, kenaikan harga ikan tembang dipengaruhi musim angin yang mengurangi volume tangkapan nelayan. Sementara itu, harga pelumas ikut merangkak naik imbas meningkatnya harga minyak mentah global. Harga daging ayam ras dan tomat juga ikut mendorong inflasi akibat pasokan yang mulai berkurang.
Harga Cabai Rawit Justru Turun, Tahan Laju Inflasi
Meski secara umum harga naik, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan berhasil menghambat laju inflasi bulanan. Cabai rawit menjadi 'rem' inflasi paling kuat dengan andil minus 0,08 persen. Komoditas lain yang harganya turun adalah angkutan laut, sawi hijau, emas perhiasan, dan ikan tongkol.
Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi di Kota Kupang sebesar 4,02 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang hanya mencapai 2,80 persen. Perbedaan angka ini menunjukkan disparitas daya beli dan rantai pasok antar daerah di NTT masih cukup lebar.