NUSA TENGGARA TIMUR — Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyampaikan proyeksi itu dalam Temu Media Nasional Subholding Downstream di Pertamina Fuel Terminal Rewulu, Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9/2026). Menurut dia, pasar minyak global belum kembali normal sejak krisis geopolitik terakhir.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Pasokan Minyak Dunia
Eko menilai konflik di Timur Tengah berdampak lebih besar dibanding perang Rusia-Ukraina. Alasannya, wilayah itu menyangkut jalur distribusi minyak mentah yang jadi urat nadi pasokan global.
"Karena Selat Hormuz merupakan urat nadi pasokan minyak mentah dunia. Akibatnya, harga minyak dunia belum stabil," katanya.
Dia berharap harga minyak mentah bisa turun ke kisaran US$60–US$70 per barel seperti sebelum krisis. Jika tidak, penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri akan terus mengikuti pergerakan pasar.
"Jadi kalau berharap turun ke USD70 per barrel atau USD60 per barrel seperti sebelum terjadinya krisis geopolitik. Kita doakan semoga itu bisa terjadi, kalau tidak kondisinya akan berdampak seperti sekarang harga pertamax Itu akan Berkisaran antara dia atas 18.000 sampai 20.000," ujar Eko.
Pertamax Masih Rp15.950, Produk Lain Sudah Naik September Ini
Sejumlah produk BBM non-subsidi Pertamina sudah mengalami penyesuaian harga sejak awal September 2026. Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex naik pada 1 September, disusul Pertamax Green 95 pada 2 September.
Berikut daftar harga BBM Pertamina per 9 September 2026:
- Pertamax: Rp15.950 per liter (belum berubah)
- Pertamax Green 95: Rp19.150 per liter, naik dari Rp16.600
- Pertamax Turbo: Rp19.600 per liter, naik dari Rp18.300
- Dexlite: Rp23.700 per liter, naik dari Rp19.700
- Pertamina Dex: Rp25.200 per liter, naik dari Rp21.150
- Pertalite: Rp10.000 per liter (subsidi, tidak berubah)
- Biosolar: Rp6.800 per liter (subsidi, tidak berubah)
Operator SPBU Lain Ikut Menyesuaikan Awal Bulan
BP-AKR, Vivo, dan Shell juga melakukan penyesuaian harga BBM pada awal September 2026. Hingga Minggu (13/9/2026), harga di operator-operator itu masih mengikuti patokan awal bulan.
Bagi pemilik kendaraan yang selama ini mengandalkan Pertamax, selisih harga dengan Pertamax Green 95 kini mencapai Rp3.200 per liter. Jika proyeksi Eko terwujud, selisih itu bisa melebar dan mendorong sebagian pengguna berpindah ke BBM subsidi atau mengurangi intensitas berkendara.
Pertamina belum menyebut kapan penyesuaian harga Pertamax berikutnya akan diumumkan. Pemantauan harga minyak mentah dunia dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah akan jadi penentu utama.