KUPANG — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (2/9/2026) berbalik arah dari penguatan awal sesi. Setelah dibuka naik 0,39 persen ke posisi 6.625, indeks justru tertekan hingga menyentuh level terendah 6.561 sebelum akhirnya ditutup sementara di 6.581,44 pada jeda siang.
Koreksi 18,49 poin ini terjadi sehari setelah IHSG melesat 1,14 persen ke level 6.599,94 pada Selasa (1/9/2026). Aksi beli investor asing yang mencapai Rp1,76 triliun turut menopang penguatan sebelumnya, dengan saham BBRI, BBCA, BMRI, TPIA, dan CPIN menjadi incaran utama.
Koreksi Wajar di Sesi I, Support dan Resistance Jadi Acuan
Pelemahan IHSG hari ini sejalan dengan proyeksi BNI Sekuritas yang sejak awal memperkirakan indeks berpotensi mengalami koreksi wajar. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebut level support berada di rentang 6.540—6.570, sementara resistance ada di 6.620—6.700.
“IHSG berpotensi koreksi wajar hari ini. Level support akan bergerak di rentang 6.540-6.570 dan level resistansi di rentang 6.620-6.700,” kata Fanny dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Pernyataan itu menjadi sinyal bagi investor ritel di NTT yang aktif memantau pergerakan indeks melalui platform daring. Rentang support tersebut dapat dijadikan acuan untuk mencermati peluang akumulasi beli jika koreksi berlanjut.
Minyak Naik Hingga 5,2 Persen, Bursa Global Ikut Tertekan
Tekanan terbesar datang dari pasar global. Bursa Amerika Serikat anjlok pada Selasa (1/9/2026), dengan Dow Jones Industrial Average ambles lebih dari 400 poin. Pelemahan itu dipicu kekhawatiran kenaikan harga minyak setelah Komando Pusat AS menyatakan menyerang target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran.
Harga minyak mentah WTI melonjak 5,2 persen, sementara Brent naik 4,6 persen sejak awal pekan. Eskalasi konflik Timur Tengah itu mendorong imbal hasil obligasi AS naik dan kembali memicu spekulasi soal arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
“Kekhawatiran akan kembali memanasnya konflik bersenjata di Timur Tengah membebani sentimen investor,” ucap Fanny.
Tekanan serupa juga dirasakan bursa Asia. Nikkei 225 Jepang turun 0,15 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,93 persen. Taiwan dan Korea Selatan menjadi pengecualian, dengan Taiex melesat 1,8 persen dan KOSPI naik 0,23 persen.
Inflasi Agustus Naik ke 3,19 Persen, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Dari dalam negeri, investor mencermati data inflasi terbaru. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen mengalami inflasi 0,21 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,19 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,88 persen.
Lonjakan inflasi tahunan ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, termasuk di NTT yang harga bahan pokoknya kerap bergerak dinamis. Namun, untuk pasar saham, perhatian utama tetap tertuju pada kebijakan suku bunga The Fed.
“The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya dalam dua pekan mendatang. Selain itu, pasar masih menunggu laporan data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) Agustus yang akan dirilis pada Jumat mendatang,” ujar Fanny.
Dengan data NFP yang akan dirilis pekan ini, volatilitas IHSG berpotensi berlanjut. Investor di NTT disarankan memantau perkembangan tersebut karena sentimen global masih menjadi penentu utama arah indeks hingga akhir pekan.