SIKKA — Duka pascagempa Flores masih jauh dari usai. Hingga 30 Agustus 2026, sebanyak 188.161 warga masih bertahan di lokasi pengungsian yang tersebar di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Angka tersebut dirilis Direktorat Pengendalian Operasi BNPB dan menjadikan konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai dan Nagekeo.
Perpanjangan masa tanggap darurat ini menjadi langkah konkret untuk memastikan kebutuhan dasar para penyintas tetap terpenuhi di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
111 Jiwa Meninggal dan Ratusan Rumah Hancur Akibat Gempa Flores
Dampak destruktif gempa yang berpusat di Kabupaten Sikka itu tercatat sangat masif. BNPB mendata korban meninggal dunia mencapai 111 orang sejak gempa pertama menggunakan pada 15 Agustus 2026, dengan total korban luka mencapai 1.631 orang. Dari jumlah tersebut, 223 orang di antaranya menderita luka berat dan 1.408 orang luka ringan.
Kerusakan fisik pun tak kalah parah. Sebanyak 95.567 unit rumah terdampak, dengan rincian 27.414 unit rusak berat, 21.992 unit rusak sedang, dan 46.161 unit mengalami rusak ringan. Wilayah terdampak meliputi Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende.
Ke Mana Ribuan Pengungsi Bertahan dan Bagaimana Logistik Disalurkan?
Para pengungsi yang tersebar di tujuh kabupaten tersebut masih sangat bergantung pada bantuan logistik dari pemerintah pusat. Untuk mempercepat distribusi, BNPB mendirikan Pos Dukungan Logistik Nasional (Posduklognas) di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Hingga 29 Agustus 2026, tercatat 46.399 kilogram atau sekitar 46 ton barang bantuan telah disiapkan di gudang posko tersebut.
Sebanyak 21.738 kilogram di antaranya telah didistribusikan ke sejumlah titik. Dua posko utama yang menjadi pusat penyaluran berada di Maumere dan Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Peran Aktif Pemuda dan Kampus dalam Penanganan Darurat
Di tengah keterbatasan, aksi kemanusiaan justru menggeliat dari elemen masyarakat. Unsur Pengarah BNPB Victor Rembeth mengapresiasi partisipasi pemuda lintas agama yang terlibat langsung dalam penyiapan dan penyaluran logistik. Mereka berasal dari mahasiswa UNIMOF, Pemuda Katolik Keuskupan, hingga Pemuda Gereja Pos Terpadu GMIT.
"Dalam pertemuan ini disepakati pembagian kerja pemerintah pusat dan daerah dalam koordinasi respons lanjutan tanggap darurat di Kabupaten Sikka yang diperpanjang sampai tanggal 11 September 2026," kata Victor Rembeth dalam rilis yang diterima di Jakarta, Kamis (3/9/2026). Ia menegaskan keterpaduan ini merupakan wujud penerapan prinsip koordinasi dan kemitraan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Partisipasi inklusif dan gotong royong tersebut dinilai mampu menekan dampak penderitaan warga secara lebih terencana. Data terkini per 3 September 2026, pemerintah masih terus melakukan pendataan dan memastikan tidak ada wilayah yang terlewat dari jangkauan bantuan.