NAGEKEO — Ratusan warga di Kampung Adat Tulubadha, Desa Rendhu Tulubadha, Kecamatan Aesesa Selatan, masih memilih bertahan di pos pengungsian meski gempa sudah mereda. Ketakutan akan gelombang susulan dan jarak pemukiman yang dekat dengan pantai membuat mereka enggan kembali ke rumah.
"Kami sehari-hari di sini, lebih banyak dalam situasi waspada siaga. Kadang kalau gempa sudah reda, sebagai petani, mereka tetap ke sawah, meninjau ternak. Tapi selalu kembali ke sini karena jauh dari pantai," ujar Suster Burga, warga yang kembali dari perantauan untuk memakamkan ayahnya.
Perempuan yang menghabiskan 30 tahun terakhir melayani tugas kerohanian di Jawa ini mengaku kepulangannya justru bertepatan dengan bencana. "Saya pulang karena orang tua meninggal, meninggal 6 Agustus. Tunggu situasi reda, baru kemudian saya kembali ke Malang," katanya.
Dua Minggu Mengungsi, Warga Terima Layanan Psikososial
Dompet Dhuafa menurunkan tim gabungan DMC dan LKC ke lokasi pengungsian. Untuk memulihkan kondisi psikis penyintas, khususnya anak-anak, mereka menggelar Psychological First Aid (PFA) berupa permainan, lomba, mendongeng, serta edukasi mitigasi bencana.
Layanan medis gratis juga dibuka untuk warga yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas kesehatan karena jarak tempuh yang jauh ke pusat kecamatan. "Kesan saya, sudah dua minggu di sini, saya merasa luar biasa. Masyarakat masih dibantu. Hari ini luar biasa dari bagian medis," ungkap Suster Burga.
Warga Adat Jadi Prioritas Layanan Kemanusiaan
Kehadiran tim medis menjadi harapan bagi warga yang selama ini kesulitan memeriksa kesehatan. "Kalau mereka periksa ke lab-lab rumah sakit, biayanya mahal. Dalam situasi agak trauma, mereka dikunjungi itu memberi kekuatan," tambahnya.
Dampak gempa dirasakan menyeluruh, mulai dari anak-anak, lansia, disabilitas, hingga komunitas adat. Dompet Dhuafa menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas penanganan melalui pilar program bernama Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER), sebagai wujud komitmen inklusivitas layanan kemanusiaan.
Masyarakat adat Tulubadha sendiri masih mempertahankan tradisi leluhur dengan rumah kayu beratap alang-alang dan ritual adat yang rutin digelar. Bantuan yang menyentuh kebutuhan dasar hingga kesehatan di tengah keterbatasan akses menjadi penguat bagi mereka untuk bangkit pascagempa.