KUPANG — Perum Bulog Kanwil NTT mencatat lonjakan signifikan dalam penyerapan gabah petani pada tahun ini. Wakil Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil NTT Romaijon Purba mengungkapkan, serapan telah mencapai 7.200 ton setara beras atau 98 persen dari target tahunan.
“Sampai dengan saat ini kita telah serap 7.200 ton setara beras dan telah capai 98 persen dari target,” kata Romaijon di Kupang, Rabu.
Mengapa serapan tahun ini lebih cepat dari tahun lalu?
Romaijon menjelaskan, capaian tahun ini menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Di sepanjang 2025, Bulog NTT hanya mampu menyerap sekitar 6.000 ton setara beras hingga akhir tahun. Padahal, tahun anggaran 2026 masih menyisakan beberapa bulan ke depan.
“Artinya tinggal sedikit lagi target tahun ini tercapai,” ujar dia.
Keberhasilan ini didorong oleh meningkatnya produksi padi di sejumlah daerah sentra pertanian di NTT. Selain itu, Bulog juga memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), penggilingan padi, dan mitra pengadaan.
Wilayah mana saja yang menjadi lumbung serapan Bulog NTT?
Penyerapan gabah dan beras dilakukan di sejumlah sentra produksi padi yang tersebar di beberapa pulau. Di Pulau Sumba, lokasi serapan meliputi Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Timur. Sementara di Pulau Timor, Bulog aktif di Kabupaten Kupang, Malaka, dan Belu. Pulau Rote Ndao juga menjadi salah satu wilayah pengadaan.
Romaijon menegaskan, pengadaan gabah dan beras dari petani merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga di tingkat produsen sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional.
“Kami akan terus mengoptimalkan penyerapan selama musim panen masih berlangsung agar target pengadaan dapat terpenuhi bahkan melampaui target yang telah ditetapkan,” ujarnya.