Penurunan saham AAPL terjadi pada Selasa (11/6) dan berlanjut hingga Rabu (12/6), saat indeks futures AS juga melemah setelah AS melancarkan serangan "self-defense strikes" terhadap Iran. Investor global saat ini tengah menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini, menyusul data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan—menguatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun.
Bukan Hanya Soal Siri yang Beta dan Terbatas Bahasa
Yahoo Finance melaporkan bahwa penurunan 4% ini sebagian dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kecepatan adopsi AI Apple. Dalam keynote WWDC, Apple memang mengumumkan Apple Intelligence—sistem AI personal yang terintegrasi dengan Siri, namun dengan sejumlah batasan signifikan.
Siri AI baru akan tersedia dalam versi beta akhir tahun ini, hanya untuk perangkat yang disetel ke bahasa Inggris. Lebih parahnya lagi, fitur ini tidak akan tersedia di Uni Eropa untuk iOS dan iPadOS, serta diblokir di China karena hambatan regulasi. Morgan Stanley mencatat bahwa kedua pasar tersebut menyumbang sekitar 35% dari total pengiriman iPhone dalam 12 bulan terakhir.
850 Juta iPhone Tak Bisa Jalankan Apple Intelligence
Analis Morgan Stanley memperkirakan bahwa sebanyak 850 juta unit iPhone yang beredar saat ini sama sekali tidak bisa menjalankan Apple Intelligence. Sementara itu, 1,3 miliar iPhone lainnya tidak mendukung versi paling canggih dari Siri.
Ironisnya, kondisi ini justru dilihat sebagai peluang. Morgan Stanley menaikkan target harga saham Apple dari sebelumnya menjadi $360 dengan peringkat Overweight. Alasannya, keterbatasan hardware ini justru bisa memicu siklus upgrade besar-besaran dan meningkatkan adopsi iCloud sebagai sumber monetisasi jangka pendek.
Indeks Merah, Bukan Cuma Apple yang Tertekan
Jika melihat pergerakan indeks saham AS dalam lima hari terakhir, hampir semuanya menunjukkan "sea of red"—lautan merah yang mengindikasikan aksi jual besar-besaran. Artinya, penurunan Apple bukanlah kasus spesifik yang disebabkan oleh kekecewaan terhadap AI semata.
Selain faktor makro, ada juga indikasi bahwa investor menjual sebagian kepemilikan saham yang sudah ada untuk berpartisipasi dalam IPO SpaceX yang sangat dinantikan. Hingga saat ini, belum ada perubahan signifikan pada target harga analis untuk saham Apple.
Bagi Pengguna Indonesia: AI Canggih, Tapi Belum untuk Kita
Bagi pengguna iPhone di Indonesia, pengumuman ini berarti fitur AI paling mutakhir dari Apple belum akan bisa dinikmati dalam waktu dekat. Selain keterbatasan bahasa Inggris dan wilayah, Apple juga belum menyebutkan rencana ekspansi ke Asia Tenggara. Namun, para pemegang saham jangka panjang mungkin tak perlu panik—apa yang diumumkan Apple di WWDC sebenarnya sudah sesuai ekspektasi pasar, dan berita ini cenderung netral hingga positif bagi fundamental perusahaan.