KUPANG — dr Stevi Harman tidak lagi melayani pasien di puskesmas, tapi ia memastikan pengabdiannya sebagai dokter tetap berlanjut di Senayan. Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Timur ini menyebut dirinya kini menjadi "dokter politik" yang memperjuangkan kebijakan kesehatan.
"Saya ini tidak banting setir. Saya tetap selalu menjadi seorang dokter. Hanya saya bukan dokter yang Bapak-Mama temui di Puskesmas atau rumah sakit," ujar dr Stevi dalam acara detikSore, Rabu (3/6/2026). "Saya nanti jadi dokter politik."
Menurutnya, profesi dokter dan senator memiliki tujuan yang sama: meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bedanya, melalui politik ia bisa mendorong regulasi yang berdampak lebih luas, terutama di bidang pencegahan penyakit.
"Dan yang saya perjuangkan bukan hanya orang-orang sakit, tapi bagaimana orang sehat tidak jatuh sakit. Preventif," kata dr Stevi.
Geografis NTT Jadi Penghambat Utama Akses Kesehatan
Sebelum terjun ke dunia politik, dr Stevi sempat menjalani masa internship di RSUD SK Lerik Kupang, Puskesmas Pasir Panjang, dan Puskesmas Manutapen. Pengalaman itu memberinya gambaran langsung soal tantangan layanan kesehatan di NTT.
Salah satu persoalan terbesar adalah kondisi geografis NTT yang terdiri dari banyak pulau. dr Stevi menjelaskan akses transportasi menjadi kendala utama, terutama saat musim hujan ketika banyak jalan berubah menjadi aliran sungai.
"Kalau sakit saat musim hujan, aksesnya bisa terputus. Apalagi untuk ibu hamil yang membutuhkan penanganan cepat," kata dr Stevi.
Gedung dan Alat Tersedia, Tenaga Kesehatan Minim
dr Stevi menyoroti ketimpangan antara infrastruktur dan sumber daya manusia. Menurutnya, pemerintah telah banyak membangun fasilitas kesehatan dan menyediakan peralatan medis, namun tenaga kesehatan yang mampu mengoperasikannya masih terbatas.
"Tapi kemajuan dari gedung, kemajuan dari fasilitasnya itu tidak disediakan dengan SDM-nya," ujar dr Stevi.
Ia juga menemukan puskesmas di daerah terpencil yang masih bergantung pada genset untuk operasional, termasuk penyimpanan vaksin. "Yang diprioritaskan listriknya untuk kulkas vaksin. Sementara ruangan lain bisa gelap," katanya.
Kondisi itu, menurut dr Stevi, mempengaruhi retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil. "Nggak ada sinyal, nggak ada jauh akses air untuk mandi, dan segala macam," imbuhnya.
Data Terintegrasi Jadi Kunci Kebijakan Kesehatan
Kini sebagai anggota DPD RI, dr Stevi bertugas di komite yang bermitra dengan Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Kementerian Sosial, hingga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
Salah satu isu yang menjadi perhatiannya adalah implementasi program Satu Data Indonesia melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Menurutnya, data yang terintegrasi akan membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.
"Karena kemiskinan di NTT sangat berhubungan dengan tingkat kesehatan masyarakat. Program Satu Data Indonesia ini menurut saya sangat bagus untuk kemajuan kesehatan," kata dr Stevi.
Ia meyakini kebijakan yang didukung data akurat dapat membantu pemerintah mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan intervensi, baik di bidang kesehatan maupun kesejahteraan sosial.