Pencarian

SCN Lingko Lodok Manggarai Fasilitasi Layanan Kesehatan 14 Anak Disabilitas Penyintas Gempa di Cibal Barat

Minggu, 25 Oktober 2026 • 10:31:31 WIB
SCN Lingko Lodok Manggarai Fasilitasi Layanan Kesehatan 14 Anak Disabilitas Penyintas Gempa di Cibal Barat
Petugas kesehatan memeriksa sejumlah anak penyandang disabilitas dalam layanan kesehatan di Aula Kantor Camat Cibal Barat, Kabupaten Manggarai.

RUTENG — Layanan kesehatan bagi anak dan remaja disabilitas penyintas gempa di Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, menyasar 14 peserta dari kalangan penyandang disabilitas dan pelajar SMP Negeri 1 Cibal Barat. SCN Lingko Lodok Manggarai menggandeng Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTT, Puskesmas Wae Codi, dan Pemerintah Kecamatan Cibal Barat dalam kegiatan di Aula Kantor Camat Cibal Barat, Jumat (23/10/2026).

Selain pemeriksaan kesehatan, agenda mencakup edukasi kesehatan reproduksi dan pemulihan psikososial pascagempa. Yayasan NLR Indonesia yang berfokus pada penanggulangan kusta dan inklusi sosial penyandang disabilitas turut mendukung, bersama Liliane Fonds, organisasi nirlaba asal Belanda yang mendorong inklusi anak dan pemuda penyandang disabilitas di negara berkembang.

Mengapa Pemulihan Psikososial Jadi Prioritas

Ketua SCN Manggarai Elias Dagung menyebut pemulihan psikososial pascagempa sangat penting bagi anak dan remaja disabilitas. Meski baru tahap awal, kegiatan lanjutan akan mengedukasi anak-anak soal kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi.

"Mungkin baru tahap pertamanya pengenalan," ujarnya.

Elias menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari tujuh hasil program Building Effective Network (BEN), salah satunya menyangkut pelayanan kesehatan. Cakupannya meliputi pemeriksaan, penguatan tenaga medis, hingga intervensi dan deteksi dini.

Tujuan program ini meningkatkan harkat dan martabat anak dan remaja disabilitas. Namun mengurus mereka membutuhkan keterlibatan pihak lain seperti dokter maupun tenaga medis lain.

Edukasi Batasan Diri dan Area Privasi Tubuh

Relawan Dokter Umum PKBI Sarrah Dwiananda Mayasafira mengatakan kehadirannya untuk memberikan pelayanan kesehatan, edukasi kesehatan reproduksi, dan trauma healing sebagai upaya pemulihan psikososial. Dalam edukasi kesehatan reproduksi, ia memberikan pemahaman tentang pubertas.

Sarah menggarisbawahi batasan diri dan area privasi tubuh, termasuk keberanian melapor kepada orang terpercaya jika mengalami tindakan yang melanggar batasan tersebut.

"Sehingga bila ada yang melakukan kekerasan atau mungkin menyentuh area-area privasi yang sudah dilarang, mereka ditekankan agar bisa melapor ke orangtuanya," ujarnya.

Edukasi ini dianggap penting karena anak dan remaja rentan menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun seksual.

"Kalau misalkan di area pengungsian kan mungkin bisa jadi, karena ditinggal di dalam tenda. Jadi tinggal mungkin bersama dengan orang yang mungkin beda keluarga, dengan lawan jenis yang berbeda," jelasnya.

Temuan di Lapangan: Pengasuh Kurang Perhatian hingga Trauma Gempa

Saat pemeriksaan kesehatan, Sarah menemukan kurangnya perhatian pengasuh terhadap anak dan remaja disabilitas. Karena itu, para pengasuh perlu diajari dan ditekankan agar anak-anak menjaga kebersihan dan kesehatannya.

Temuan lain menyangkut munculnya rasa cemas dan trauma terhadap gempa. Sebagian peserta disebut sudah cukup beradaptasi, stabil, dan tenang.

Sarah menambahkan pihaknya membantu pelayanan trauma healing bagi korban bencana maupun korban kekerasan, termasuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.

Follow halokupang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekorantt.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks