RUTENG — Wensislaus Sedan menekankan bahwa SPMI bukan sekadar administrasi, melainkan ruang bagi guru untuk memperbarui diri dan merenungkan kembali praktik pengajaran. Menurutnya, pembelajaran berkualitas adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar setiap anak.
Guru dituntut mampu menyelesaikan permasalahan belajar anak, menumbuhkan rasa keterimaan siswa terhadap guru, serta menciptakan pembelajaran yang menggembirakan tanpa kekerasan.
"Sering saya katakan, SPMI itu lebih kepada memperbarui diri dan merenungkan. Apakah pembelajaran sesuai dengan esensi pembelajaran yang sebenarnya atau tidak," tutur Sedan.
Karakter Guru Ikut Jadi Sorotan
Sedan menyoroti pentingnya karakter dan kebiasaan para guru dalam mendukung proses pembelajaran. Ia berharap pelatihan ini menjadi ruang bagi guru untuk saling bertukar pikiran sesama rekan sejawat.
Pertukaran pengalaman itu dinilai penting agar guru mengetahui efektivitas dan efisiensi pembelajaran di kelas masing-masing.
"Saya juga minta teman-teman kepala sekolah istilahnya treatment, menyembuhkan atau mengembalikan guru ke esensi yang sebenarnya," tuturnya.
Menurut Sedan, SPMI berfokus pada kesesuaian kualitas layanan pembelajaran dengan kebutuhan belajar murid. Peran guru sebagai fasilitator dinilai krusial dalam menetapkan model pembelajaran, mengukur, lalu mengevaluasinya.
Kepala sekolah, lanjutnya, bisa mengendalikan proses pembelajaran yang dilakukan rekan gurunya. Pengawas bertugas melakukan evaluasi pada pelaksanaan pembelajaran tersebut.
Rangkaian Program BOS Kinerja: SPMI, Literasi, Numerasi, Digitalisasi
Fasilitator daerah BOS Kinerja Kabupaten Manggarai, Posma Sihombing, menjelaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan melalui program BOS Kinerja mencakup sejumlah rangkaian kegiatan. Mulai dari SPMI, literasi dan numerasi, hingga digitalisasi pembelajaran.
"Setelah kegiatan, para peserta diwajibkan menerapkan materi yang diperoleh di sekolah masing-masing," kata Posma.
Hasil penerapan itu akan diimplementasikan melalui presentasi gelar karya. Selain pelatihan di masing-masing sekolah, pengimbasan juga dilakukan ke sekolah lain agar manfaatnya meluas.
Posma menilai bimtek SPMI penting untuk membantu sekolah memperbaiki rapor pendidikan. Data dalam rapor pendidikan, Data Pokok Pendidikan (Dapodik), serta hasil akreditasi dapat menjadi dasar bagi sekolah dalam merencanakan hingga mengevaluasi program pendidikan.
"Pelaksanaan program sekolah sampai pada evaluasi berdasarkan data, baik bersumber dari raport pendidikan, Dapodik atau juga dari hasil akreditasi sekolah," katanya.
Kelemahan Membaca Data Rapor Pendidikan
Posma melihat masih terdapat sejumlah kelemahan dalam pemanfaatan rapor pendidikan. Terutama dalam membaca dan menindaklanjuti indikator utama seperti literasi, numerasi, karakter peserta didik, dan lingkungan belajar.
Sekolah diharapkan semakin mampu menggunakan data sebagai dasar perbaikan pembelajaran. Dengan begitu, peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
41 Peserta dari Enam SMP Gugus V
Kepala SMP Negeri 2 Ruteng, Heribertus Batu, menyebut bimtek tata kelola satuan pendidikan SPMI ini berlangsung selama tiga hari. Peserta yang ikut tercatat sebanyak 41 orang dari enam sekolah tingkat SMP penerima BOS kinerja.
"Masing-masing sekolah ada yang utus lebih dari orang peserta. Tapi untuk kegiatan bimtek ini, kepala sekolah dan bendahara sekolah wajib ikut," tutupnya.
Peserta bimtek berasal dari gugus V yang mencakup enam sekolah: SMP Negeri 5 dan 6 Langke Rembong, SMP Katolik Imaculata, SMP Santu Klaus Kuwu, SMP Negeri 2 Ruteng, dan SMP Negeri 8 Cibal. Bimtek ini hanya diikuti sekolah-sekolah penerima dana BOS kinerja terbaik tahun 2026 tingkat Kabupaten Manggarai.