Sebanyak 6.094 pengungsi gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai kembali ke rumah masing-masing, sehingga total pengungsi kini tercatat 179.037 jiwa. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menegaskan kepulangan tersebut dilakukan atas kemauan warga sendiri setelah memastikan rumahnya aman.
JAKARTA — Arus kepulangan pengungsi gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berlanjut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi berkurang 6.094 jiwa, sehingga total yang masih bertahan di lokasi pengungsian saat ini menjadi 179.037 orang.
Kepulangan warga ini terjadi di tengah aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung. BNPB memastikan para pengungsi tidak dipaksa untuk kembali, melainkan memilih pulang setelah menilai rumah mereka layak huni.
Warga Pulang Secara Sukarela, BNPB Pastikan Rumah Aman
"Tercatat sebenarnya lebih 6.094 yang pulang. Jadi ada yang pulang, ada yang datang. Tapi berkurang jadinya menjadi 6.094 jiwa. Nah, ini pulang sebenarnya ke rumah dengan kesediaan mereka masing-masing. Mereka tidak dipaksa," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan di Jakarta, Rabu.
BNPB tidak melepas para pengungsi begitu saja. Setiap warga yang memutuskan pulang tetap diberikan perlengkapan dan makanan, sehingga mereka dapat menikmati fasilitas serupa seperti saat berada di pengungsian.
Keputusan untuk kembali juga mempertimbangkan kondisi gempa terkini yang dinilai mulai melandai. BNPB berharap gempa susulan ke depan hanya berkekuatan di bawah 3 skala richter (SR) agar tidak berdampak signifikan terhadap infrastruktur dan keselamatan warga.
7.492 Kali Gempa Susulan Masih Mengguncang NTT
Hingga saat ini, BNPB mencatat telah terjadi 7.492 kali gempa susulan sejak gempa utama menerjang. Dari jumlah tersebut, magnitudo terbesar mencapai M6,2 dan terkecil M1, dengan 143 di antaranya terasa getarannya oleh warga.
"Gempa susulan ini diperkirakan akan berlangsung sampai 3-4 minggu, sejak gempa pertama kita alami. Semoga nanti gempa-gempa susulan ini semakin kecil, semakin tidak dirasakan, dan warga juga sudah akan mulai merasakan lebih tenang dan tidak menimbulkan kepanikan lagi," kata Berton.
Bantuan Perbaikan Rumah Rusak: Rp15 Juta hingga Penggantian Rumah
Pemerintah saat ini tengah melakukan pendataan menyeluruh terhadap rumah-rumah warga yang rusak akibat gempa. Data ini akan menjadi dasar bagi kepala daerah untuk menentukan langkah tindak lanjut, termasuk skema bantuan yang diberikan.
"Atas kategori tersebut, tentu kami dari BNPB juga akan melakukan treatment yang berbeda. Kalau rusak berat biasanya akan dilakukan dengan penggantian rumah, apakah di lokasi atau di lokasi yang berbeda, kami belum dapat informasi, nanti pemerintah daerah tentu akan menyampaikan," jelasnya.
Sementara untuk kategori kerusakan ringan, pemerintah akan memberikan bantuan biaya perbaikan sebesar Rp15 juta per unit. Adapun untuk kerusakan sedang, bantuan yang disiapkan mencapai Rp30 juta per unit.
Logistik dari Jakarta: 1.682 Ton Bantuan Telah Dikirim
Untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi, pos pendukung logistik nasional di Bandara Halim Perdanakusuma terus mengirimkan bantuan. Hingga 26 Agustus, sebanyak 127 ton bantuan telah diterima pos tersebut dan 121 ton di antaranya telah disalurkan ke warga NTT.
Secara total, pos logistik nasional telah mengirimkan 1.682 ton bantuan ke NTT. Rinciannya, Labuan Bajo telah menerima 1.112 ton logistik, sedangkan Maumere menerima sebanyak 570 ton untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi di wilayah terdampak.