LARANTUKA — Krisis bahan bakar minyak (BBM) subsidi melumpuhkan aktivitas warga Flores Timur dalam beberapa pekan terakhir. Warga dari pelosok desa hingga pusat Kota Larantuka mengeluhkan sulitnya mendapatkan pertalite, solar, dan minyak tanah. Akibatnya, antrean panjang mengular di SPBU dan harga di tingkat pengecer meroket.
Antrean Mengular 400 Meter, Arus Transportasi Tersendat
Pelataran dalam hingga luar SPBU 01 Larantuka dipadati kendaraan roda dua, roda empat, dan roda enam. Antrean hanya terjadi di pompa BBM bersubsidi, sementara pompa non-subsidi nyaris sepi. Panjang antrean mencapai lebih dari 400 meter ke arah timur kota, mengganggu arus lalu lintas di ruas jalan utama.
Petrus Riyanto (25) terpaksa mendorong sepeda motornya dari tengah antrean. Ia sudah dua jam menunggu di bawah terik matahari sejak pukul 07.30 Wita. "Saya datang dari Pukul 7.30 Wita, mau isi pertalite. Iya, sekarang ini BBM semakin susah," keluhnya kepada Ekora NTT.
Harga Eceran Melonjak, Nelayan Berhenti Melaut
Kelangkaan ini langsung mendongkrak harga BBM eceran. Warga desa yang jauh dari tiga SPBU di Larantuka membeli pertalite seharga Rp30.000 per botol, naik dari harga normal Rp20.000. Tak hanya itu, oknum pengecer mengurangi isi botol hampir setengah badan botol.
Sektor perikanan menjadi yang paling terpukul. Banyak nelayan di wilayah pesisir terpaksa berhenti beroperasi karena kesulitan mendapatkan solar. Kapal-kapal besar seperti Flotim dan Nelayan Bhakti (NB) yang biasanya mendapat jatah solar di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Amagarapati, kini tak kebagian pasokan. Solar dari pengecer dijual dengan harga Rp10.000 hingga Rp11.000 per liter.
"Solar lagi susah, jadi sementara kami tidak melaut dulu," ujar seorang anak buah kapal (ABK) yang meminta namanya tidak disebutkan.
Harga Ikan Merangkak Naik, Rantai Ekonomi Terganggu
Berkurangnya hasil tangkapan mendorong harga ikan di Pasar Larantuka merangkak naik. Empat ekor ikan kini dijual Rp20.000, padahal sebelumnya dengan harga yang sama pembeli bisa mendapat enam hingga tujuh ekor. Kondisi ini mengganggu stabilitas rantai ekonomi dari hulu ke hilir, terutama bagi pedagang kecil dan kalangan menengah ke bawah.
Riyanto mengaku khawatir bakal terjadi lonjakan harga yang lebih tinggi ke depan. "Kalau begini, masyarakat yang rugi, semoga diatur lebih baik," harapnya.
Pemilik SPBU: Kuota Dibatasi Pertamina Sejak 1 Juni 2026
Pemilik SPBU 01 Larantuka, Linda Monteiro, mengatakan bahwa Pertamina membatasi kuota BBM subsidi secara nasional sejak 1 Juni 2026. "Sampai hari ini, (kuotanya) masih yang sama. Jadi kita dikasih sekian untuk beberapa hari. Jadi pembatasan dan efisiensi ini berlaku secara nasional," ujarnya tanpa merinci jumlah kuota yang dikurangi.
Pemda Belum Memberikan Keterangan Resmi
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Bagian (Kabag) Sumber Daya Alam (SDA) Setda Flores Timur, Tarsisius Kopong, yang membidangi BBM, belum memberikan penjelasan. Tarsisius mengaku sedang mengikuti agenda penting dan berjanji akan menghubungi kembali.
Sementara itu, warga menduga kelangkaan dipicu praktik jual beli BBM memakai jeriken di SPBU oleh banyak pihak. Mereka mendesak pemerintah dan Pertamina melakukan pembenahan demi pendistribusian BBM yang lebih teratur.