NUSA TENGGARA TIMUR — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan kesiapan teknis peluncuran B50. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut hasil uji coba di sektor transportasi dan industri menunjukkan performa menggembirakan.
Harga B50 Ikuti Formula Solar yang Berlaku
Laode Sulaeman menegaskan tidak ada skema harga khusus untuk B50. "Kalau harga kan mengikuti harga BBM yang sudah biasanya aja, enggak ada hal khusus," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (26/6).
Pernyataan ini mengindikasikan harga B50 akan mengacu pada formula solar subsidi dan non-subsidi, tergantung segmen konsumen. Pemerintah belum merilis angka pasti, tetapi kepastian ini menjawab spekulasi soal potensi kenaikan harga di tengah transisi energi.
Masa Transisi 3 Bulan untuk Penyesuaian Stok dan Blending
Implementasi B50 akan dilakukan secara nasional. Pemerintah memberikan masa jeda tiga bulan untuk penyesuaian di lapangan. "Masih ada sisa-sisa B40 itu dihabiskan dulu, diberi waktu sampai dengan 3 bulan. Jadi, penyesuaiannya hingga menjadi 100 persen pemulihan ke B50," jelas Laode.
Proses ini mencakup penghabisan stok lama dan penyesuaian infrastruktur pencampuran (blending) di depot-depot BBM di seluruh Indonesia.
Kandungan Air Lebih Rendah, Uji Coba di Alat Berat hingga Kereta Api
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap temuan menarik dari uji coba B50. "Kadar air daripada perbandingan B40 dengan B50, B50 itu kadar airnya lebih sedikit," katanya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (18/6).
Pengujian dilakukan pada spektrum kendaraan luas: alat berat, kapal, kereta api, kendaraan tambang, ekskavator, hingga alat pertanian. Hasil positif ini menjadi modal optimisme pemerintah bahwa program berjalan sesuai jadwal awal bulan depan.
Target Penghematan Devisa Rp 157 Triliun dan Serapan Tenaga Kerja
Kementerian ESDM menargetkan mandatori B50 mampu menghemat devisa hingga Rp157,28 triliun. Program ini diproyeksikan meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) sebesar Rp24,68 triliun hingga akhir 2026.
Dari sisi lingkungan, pemerintah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton karbon dioksida (CO2) sepanjang tahun ini. Sektor ketenagakerjaan juga diuntungkan dengan proyeksi serapan sekitar 2,2 juta tenaga kerja.
"Dengan demikian kita akan mengurangi atau bahkan kita tidak lagi melakukan impor solar, khususnya jenis tertentu yang selama ini masih kita impor," ujar Bahlil.