Pencarian

Erupsi Anak Krakatau Dongkrak Saham KAEF, OMED, DKHH; Analis Sebut Sentimen Jangka Pendek

Senin, 07 September 2026 • 11:19:01 WIB
Erupsi Anak Krakatau Dongkrak Saham KAEF, OMED, DKHH; Analis Sebut Sentimen Jangka Pendek
Saham PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) melonjak 30,56% ke posisi Rp 94 pada perdagangan Senin (7/9) di tengah kekhawatiran dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

NUSA TENGGARA TIMUR — Penguatan saham sektor kesehatan terjadi di tengah kekhawatiran meluasnya dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Paparan abu berisiko memicu gangguan pernapasan dan iritasi mata, sehingga mendorong lonjakan permintaan masker, obat-obatan saluran pernapasan, hingga suplemen daya tahan tubuh.

Pada pukul 09.51 WIB, PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) menjadi pendatang baru dengan lonjakan signifikan. Sahamnya meroket 30,56% ke posisi Rp 94, disusul PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) yang menguat 6,52% menjadi Rp 294. Sektor rumah sakit pun ikut menghijau, dengan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) bertambah 3,27% ke level Rp 2.210.

Emiten dengan Eksposur Produk Masker dan Obat Pernapasan

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menilai sentimen erupsi ini menjadi katalis positif bagi emiten yang memiliki lini produk terkait langsung dengan mitigasi bencana.

"Sentimen tersebut berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten healthcare, khususnya perusahaan dengan eksposur pada produk masker, obat pernapasan dan produk kesehatan terkait," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Senin (7/9).

Sejumlah emiten yang berpotensi diuntungkan antara lain PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED), PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), dan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA). Dari sisi farmasi besar, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga disebut akan terdorong oleh meningkatnya permintaan suplemen.

Investor Diminta Cermati Volume Transaksi dan Durasi Sentimen

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menegaskan bahwa pergerakan ini serupa dengan pola saat pandemi Covid-19. Menurutnya, kebutuhan emergency menjadi pemicu utama, namun durasi penguatan sangat bergantung pada perkembangan erupsi.

"Yang naik adalah berkaitan dengan keperluan emergency terkait bencana alam," ujar Liza.

Ia menambahkan, dalam situasi force majeure, investor tidak bisa memprediksi kapan bencana akan berakhir. Oleh karena itu, keputusan untuk tetap menahan saham atau mengambil untung harus didasarkan pada toleransi risiko masing-masing.

"Intinya, dalam situasi force majeure seperti ini, seperti zaman Covid, kita tidak tahu kapan bencana alam akan berakhir," jelas Liza.

BRI Danareksa Sekuritas menekankan perlunya konfirmasi lebih lanjut. "Kami melihat sentimen ini lebih bersifat short term catalyst, dengan perkembangan erupsi dan luas sebaran abu menjadi faktor utama yang perlu dicermati," tulis riset tersebut. Konfirmasi volume perdagangan dan keberlanjutan momentum menjadi syarat utama untuk melihat potensi penguatan lebih lanjut.

Sebaran Abu Masih Meluas ke Jawa dan Sumatera

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebaran abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Senin (7/9) pagi belum berubah signifikan. Abu menyebar dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,5 kilometer, bergerak ke arah Barat dengan kecepatan 15 knot (28 km/jam).

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi sebagian Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sumatra Selatan. Dengan masih luasnya area terdampak, permintaan produk kesehatan darurat berpeluang tetap bertahan dalam beberapa hari ke depan.

Investasi mengandung risiko.

Follow halokupang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks