NUSA TENGGARA TIMUR — Laga yang dinobatkan sebagai partai ke-102 Piala Dunia ini langsung membawa atmosfer yang berbeda. Dalam konferensi pers, Scaloni berkali-kali menggeleng ketika pertanyaan soal Perang Malvinas mencuat. “Tidak, tidak, tidak. Ini hanya pertandingan sepak bola. Jangan mencari hal lain. Ini laga melawan tim hebat dengan pelatih hebat yang saya kagumi. Tapi ini sepak bola. Titik,” ujarnya tegas.
Gelandang Argentina: Lagu untuk Pahlawan, Bukan Kebencian
Rodrigo De Paul, gelandang Argentina, memperkuat pernyataan pelatihnya. Ia mengakui laga ini punya bobot historis, terutama setelah apa yang dilakukan Diego Maradona di 1986. “Kami menyanyikan lagu tentang pahlawan Malvinas untuk mengenang mereka. Tapi yang kami inginkan adalah memenangkan pertandingan ini demi lolos ke final,” kata De Paul.
Bagi De Paul, perang adalah tragedi yang harus dibahas di forum terpisah. “Apa yang terjadi adalah kekejaman dan kami selalu mengenang yang gugur. Tapi di sini, kami hanya ingin bermain,” tambahnya.
Warisan Maradona: Tangan Tuhan dan Gol Abad Ini
“Apa yang Diego lakukan” merujuk pada momen ikonik di perempat final Piala Dunia 1986. Dalam hitungan menit, Maradona mencetak dua gol yang kontras: satu dengan tangan (“Tangan Tuhan”) dan satu lagi dengan dribel brilian yang dikenal sebagai gol abad ini. “Rasanya seperti mencopet orang Inggris,” canda Maradona kala itu.
Namun, di 2014, Maradona menyebut perang Malvinas sebagai peristiwa bodoh yang diatur oleh “dua pemerintah pembunuh.” Seorang veteran perang yang juga anggota barra brava Argentina pernah berkata kepada penulis, “Tidak ada yang lebih membenci perang selain tentara. Yang di tribun ini tentang cinta, keindahan, dan kegembiraan. Ini tak ada hubungannya dengan kebencian.”
Duel yang Tak Pernah Biasa: 1998 hingga 2005
Pertemuan kedua negara selalu menyisakan cerita. Di Saint-Étienne 1998, media membesar-besarkan potensi bentrokan suporter. Namun, selain kerumunan di alun-alun kota, tak ada kerusuhan berarti. Di atas lapangan, Michael Owen membuat dunia terpana dengan solo run-nya, sebelum David Beckham diusir karena bereaksi terhadap provokasi Diego Simeone.
Empat tahun kemudian di Jepang, Beckham membalas dendam. Sven-Göran Eriksson bahkan mempekerjakan psikolog yang melarang pemain Inggris melakukan kontak mata dengan pemain Argentina. Saat Simeone mendekat dengan uluran tangan mengejek, Beckham hanya memalingkan muka dan mencetak gol penalti kemenangan. Hasil itu membuat Argentina tersingkir lebih awal dari Piala Dunia dalam beberapa dekade.
Pertemuan Terakhir dan Kenangan Scaloni
Laga terakhir kedua tim terjadi di Jenewa 2005, sebuah laga persahabatan yang dimenangkan Inggris. Walter Samuel dan Roberto Ayala menjadi duet bek tengah Argentina. Namun, pelatih José Pékerman saat itu sadar bahwa Javier Zanetti harus digantikan. Nama penggantinya? Lionel Scaloni, yang kini duduk di kursi pelatih Argentina.
Jorge Valdano, legenda Argentina, pernah berkata tentang duel ini: “Ini adalah pertandingan di mana Mexican wave tidak punya kesempatan.” Terlalu sakral bagi kedua kubu. Kini, dengan keamanan diperketat di Atlanta, semoga rivalitas ini hanya tinggal soal sepak bola murni.