Pencarian

BBKSDA Akui Wisata Poco Likang di Manggarai Belum Sesuai Zonasi, 887 Pengunjung Sudah Mendaki

Rabu, 01 Juli 2026 • 11:34:31 WIB
BBKSDA Akui Wisata Poco Likang di Manggarai Belum Sesuai Zonasi, 887 Pengunjung Sudah Mendaki
Poco Likang di Manggarai belum resmi sebagai zona wisata sesuai zonasi BBKSDA NTT.

RUTENG — Poco Likang di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, Manggarai, mendadak menjadi primadona wisata pendakian setelah video embun beku di puncaknya viral di media sosial. Namun, di balik euforia itu, Kepala BBKSDA NTT Adhi Nurul Hadi mengungkapkan bahwa lokasi tersebut belum dialokasikan sebagai zona wisata dalam blok pengelolaan yang berlaku.

Dalam jawaban tertulisnya kepada Floresa pada 26 Juni, Adhi menjelaskan bahwa aktivitas wisata di Poco Likang saat ini belum sesuai dengan blok yang ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal KSDAE pada 2016. "Namun dalam proses untuk dilakukan pengubahan pasca dilakukannya evaluasi blok," tulisnya.

Kajian Dampak Lingkungan Baru Akan Dilakukan Setelah Zonasi Selesai

BBKSDA mengakui bahwa kajian daya dukung dan analisis dampak lingkungan di Poco Likang belum dilakukan. Langkah itu baru akan dikerjakan setelah proses evaluasi dan perubahan blok zonasi rampung.

Padahal, para pegiat lingkungan sudah menyuarakan kekhawatiran serius. Telaga di Poco Likang dinilai sebagai daerah resapan air yang menjamin pasokan mata air bagi dua kecamatan, Ruteng dan Satar Mese. Pijakan kaki ribuan pengunjung dikhawatirkan memadatkan tanah dan memperlambat penyerapan air, dengan dampak jangka panjang yang belum bisa diprediksi.

Tarif Tiket Rp20.000, Personel Jaga Hanya 2 Orang per Hari

Meski belum sesuai zonasi, BBKSDA tetap membuka akses wisata dengan tarif mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2024. Tarif untuk mendaki gunung atau hiking sebesar Rp20.000, sementara berkemah Rp5.000 per orang. Seluruh penerimaan disetorkan langsung ke kas negara.

Untuk pengelolaan harian, BBKSDA hanya mengalokasikan dua orang personel tiket setiap hari dengan sistem piket. Secara keseluruhan, TWA Ruteng memiliki 16 personel perlindungan dan pengamanan hutan yang tersebar di empat resor, termasuk Resor Golo Lusang yang membawahi Poco Likang.

Fasilitas Minim, Jalur Tracking Mulai Ditata

Saat ini, fasilitas yang tersedia di lokasi masih sangat terbatas. BBKSDA baru menyelesaikan penataan awal jalur tracking dari Golo Lusang ke Poco Likang. Dua bangunan tua—Kantor Resor Golo Lusang yang dibangun 2001 dan Pos Jaga Golo Lusang tahun 1997—menjadi satu-satunya infrastruktur penunjang.

"Secara berangsur-angsur akan dilakukan peningkatan sarana berupa penataan lanjutan jalur," kata Adhi. Aktivitas wisata yang diizinkan saat ini masih terbatas pada tracking, hiking, dan bird watching dalam skala kecil dengan kondisi alami.

Evaluasi Blok Jadi Kunci Masa Depan Wisata Poco Likang

BBKSDA tengah melakukan evaluasi blok TWA Ruteng untuk memperluas zona pemanfaatan. Tujuannya mengakomodasi animo masyarakat yang tinggi terhadap Poco Likang tanpa mengabaikan kondisi fisik dan bioekologi kawasan. Saat ini, blok pemanfaatan resmi hanya mencakup lokasi seperti Ranamese, Ranaka, Cunca Rede, Ranapoja, dan Golo Lusang.

Poco Likang sendiri pertama kali dijajaki sebagai destinasi pendakian setelah survei tim BBKSDA pada 2018 dan kelompok pecinta alam nasional pada 2023. Nama gunung ini tercatat di laman pendakian Asia Tenggara, Gunung Bagging, dengan sebutan Poco Ngandonalu atau Poco Pajung. Namun, ledakan pengunjung baru terjadi setelah viral pada April lalu, memicu pertanyaan besar: apakah daya dukung alamnya siap?

Bagikan
Sumber: floresa.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks