KUPANG — Proporsi dosen bergelar doktor di NTT yang baru mencapai sepertiga dari total tenaga pengajar menjadi alarm bagi mutu pendidikan tinggi di wilayah Indonesia Timur. Untuk merespons hal ini, Kemdiktisaintek menghadirkan sejumlah skema beasiswa dan pendampingan yang dirancang khusus bagi dosen di daerah afirmasi dan wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Program Apa Saja yang Disiapkan?
Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Sri Suning Kusumawardani, menyebutkan ada empat program non-gelar utama yang ditawarkan. Keempatnya adalah program pra-doktoral daerah afirmasi, talent scouting, bridging program, dan Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris (PKBI).
“Melalui program talent scouting dan pra-doktoral, para dosen akan dibantu mencari mentor dan menyusun rencana riset sehingga memiliki kesiapan yang lebih baik untuk melanjutkan studi doktoral di perguruan tinggi terbaik,” ujar Sri Suning dalam sosialisasi Program Beasiswa Dosen dan Tenaga Kependidikan Wilayah NTT, Jumat.
Kuliah Hybrid Tanpa Tinggalkan Tugas Mengajar
Agar dosen tidak kehilangan hak akademik dan tunjangannya, program ini dirancang dengan skema pembelajaran hibrid. Pelaksanaannya melibatkan sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bereputasi riset kuat, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
“Kami ingin memastikan dosen tetap bisa menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi sambil mempersiapkan diri untuk studi lanjut,” kata Sri Suning menambahkan. Dengan sistem ini, dosen dapat tetap mengajar dan mendapatkan sertifikasi serta tunjangan profesi selama mengikuti program persiapan.
Mengapa Afirmasi Ini Mendesak?
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV NTT, Adrianus Amheka, menilai kondisi ini sebagai tantangan besar. Menurutnya, fakta bahwa baru sepertiga dosen yang berkualifikasi doktor harus segera direspons secara kolektif.
“Pengembangan kualifikasi akademik melalui jalur beasiswa menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi di NTT,” ujar Adrianus secara daring. Ia menambahkan, peningkatan jumlah doktor akan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran, kapasitas riset, dan peluang meraih hibah nasional yang lebih besar.
Integritas Akademik Jadi Syarat Mutlak
Dalam kesempatan yang sama, Kemdiktisaintek mengingatkan para dosen untuk mengedepankan integritas akademik. Peringatan ini disertai imbauan tegas untuk menghindari publikasi pada jurnal predator atau cara-cara instan yang tidak sesuai kaidah ilmiah.
Program afirmasi ini diharapkan mampu mendorong perguruan tinggi di NTT mengejar standar mutu nasional. Informasi lengkap mengenai pendaftaran dan skema beasiswa dapat diakses melalui laman resmi di https://kualifikasidikti.kemdiktisaintek.go.id/.