KUPANG — Subhan menilai peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTT selama ini terlalu bertumpu pada optimalisasi pajak dan retribusi. Padahal, provinsi kepulauan ini menyimpan potensi besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan sumber daya alam lain yang belum diolah maksimal.
“NTT perlu memperkuat rantai nilai komoditas unggulan melalui hilirisasi produk dan pengembangan ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan sektor pariwisata,” kata Subhan di Kupang, Rabu.
Menurut Subhan, sebagian besar komoditas unggulan masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai ekonomi yang diterima masyarakat dan daerah belum optimal. Ia mencontohkan sektor pertanian dan sumber daya alam yang dinilai masih membutuhkan inovasi dan keterlibatan generasi muda untuk menaikkan nilai tambah.
Strategi Penguatan dari Hulu ke Hilir
Subhan menjabarkan sejumlah strategi yang bisa ditempuh. Mulai dari pembangunan infrastruktur pedesaan, pengembangan agribisnis terpadu dari hulu hingga hilir, hingga peningkatan akses permodalan bagi usaha mikro.
Ia juga mendorong penguatan literasi digital dan keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian serta pengelolaan sumber daya alam. “Sektor pertanian dan sumber daya alam NTT memiliki potensi besar, tetapi masih membutuhkan inovasi dan keterlibatan generasi muda untuk meningkatkan nilai tambahnya,” ujarnya.
Program Pemprov: TAPA OK JU hingga NTT Mart
Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, Ernes D. Hamel, menyebut pemerintah daerah sudah menjalankan program yang sejalan dengan gagasan hilirisasi. Salah satunya adalah program Tanam, Panen, Olah, Kemas, Jual (TAPA OK JU).
Selain itu, gerakan One Village One Product (OVOP) terus didorong untuk meningkatkan nilai ekonomi produk lokal sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha di desa. Pemerintah provinsi juga mengembangkan skema pembiayaan kreatif melalui program Desa Dasacita 100 Juta serta memperkuat jaringan pemasaran produk unggulan daerah melalui NTT Mart.
Ernes menegaskan langkah-langkah itu menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis potensi lokal.
Efisiensi Anggaran sebagai Peluang Inovasi
Wakil Dekan I FEB Undana, Paulina Y. Amtiran, mengatakan kuliah umum tersebut bertujuan memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai tantangan pengelolaan keuangan daerah. Acara itu sekaligus mempertemukan perspektif akademik dengan praktik kebijakan pembangunan di lapangan.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa efisiensi anggaran bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang untuk menghadirkan inovasi pembiayaan dan pengembangan ekonomi daerah,” ujar Paulina.