NUSA TENGGARA TIMUR — Enam unit mobil pemadam kebakaran dari Kabupaten Bekasi dikerahkan ke lokasi kebakaran di kawasan padat penduduk tersebut. Petugas berjibaku selama sekitar dua jam untuk menjinakkan api yang terus menyala di bawah puing-puing bangunan yang runtuh.
Keterbatasan Air dan Material Plastik Jadi Kendala
Kepala petugas pemadam di lokasi menyebutkan bahwa kesulitan utama adalah keterbatasan sumber air. Material plastik yang terbakar juga membuat api terus menyala di bawah reruntuhan, sehingga petugas harus membongkar puing-puing secara manual untuk memastikan api benar-benar padam.
"Kami harus bolak-balik mencari pasokan air dari hidran terdekat. Ditambah lagi, angin kencang membuat api cepat membesar," ujar salah satu petugas di lokasi.
Api Merambat dari Pembakaran Sampah di Dekat Gudang
Ketua RT setempat, Jefri, menduga api berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang dilakukan di area dekat gudang. Saat dirinya mengecek lokasi, asap dan api sudah terlihat tinggi. "Pas saya cek lokasi asap sama api sudah tinggi," kata Jefri di lokasi kejadian.
Gudang yang terbuat dari bahan bangunan mudah terbakar dan berisi tumpukan limbah plastik itu ludes dalam waktu singkat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Peringatan bagi Kawasan Industri dan Permukiman Padat
Kebakaran di Cikarang ini menjadi pengingat akan risiko tinggi di kawasan industri yang berdekatan dengan permukiman padat. Pembakaran sampah sembarangan, terutama di dekat tempat penyimpanan material mudah terbakar, kerap menjadi pemicu kebakaran besar.
Warga setempat berharap pemerintah desa dan pengelola kawasan industri lebih ketat mengawasi aktivitas pembakaran sampah. "Sudah sering terjadi, tapi belum ada tindakan tegas," keluh seorang warga yang rumahnya berjarak 50 meter dari gudang yang terbakar.