KUPANG — Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Kepala Pos Pengamatan Gunung (PPG) Lewotobi Laki-Laki, Herman Yosep M Boro, melaporkan bahwa erupsi masih terjadi secara intensif sejak Jumat pekan lalu.
Enam Kali Erupsi dalam Sehari, Kolom Abu Capai 1.500 Meter
Herman merinci, pada Senin (9/6) terjadi delapan kali erupsi dengan ketinggian kolom abu berkisar 800 hingga 1.500 meter. Tren serupa berlanjut pada Selasa (10/6). Sejak pukul 01.00 hingga 06.00 Wita, tercatat tiga kali erupsi. Kemudian, pada rentang pukul 06.00 hingga 10.35 Wita, terjadi lagi tiga kali erupsi dengan tinggi kolom abu antara 600 hingga 1.500 meter.
Radius Bahaya dan Ancaman Lahar Hujan
PPG mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. “Masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki dan pengunjung atau wisatawan agar tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi,” kata Herman saat dihubungi dari Kupang.
Selain ancaman erupsi langsung, warga juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan. Ancaman ini meningkat ketika hujan deras mengguyur kawasan puncak gunung. Daerah-daerah yang berada di sepanjang aliran sungai berhulu di puncak Lewotobi Laki-Laki disebut paling berisiko, termasuk Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Imbauan Gunakan Masker dan Jaga Kewaspadaan
Herman mengingatkan warga yang terdampak hujan abu vulkanik untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. “Penggunaan masker penting untuk menghindari bahaya abu vulkanik terhadap sistem pernapasan,” ujarnya. Ia juga meminta masyarakat tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya.
Gunung Lewotobi Laki-Laki sebelumnya mengalami erupsi dahsyat pada November 2024 yang memaksa 12.200 orang mengungsi. Status Siaga saat ini menjadi pengingat bahwa potensi bahaya masih mengintai, terutama bagi mereka yang tinggal di zona merah.