Pencarian

Krisis Iklim di NTT Perberat Beban Ganda Perempuan, Webinar Hari Lingkungan Hidup Soroti Ancaman Proyek Panas Bumi Flores

Selasa, 09 Juni 2026 • 13:42:12 WIB
Krisis Iklim di NTT Perberat Beban Ganda Perempuan, Webinar Hari Lingkungan Hidup Soroti Ancaman Proyek Panas Bumi Flores
Perempuan di NTT menghadapi beban ganda akibat krisis iklim dan proyek panas bumi di Flores.

KUPANG — Perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi kelompok yang paling merasakan dampak krisis iklim, mulai dari kekeringan berkepanjangan hingga menurunnya produktivitas pertanian. Beban kerja perawatan rumah tangga mereka disebut semakin berat di tengah perubahan musim yang tak menentu dan ancaman terhadap ruang hidup akibat proyek pembangunan ekstraktif. Hal ini mengemuka dalam webinar peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar Solidaritas Perempuan Flobamoratas, beberapa waktu lalu.

Perempuan di Garda Terdepan, Namun Terpinggirkan dalam Kebijakan

Dalam diskusi bertajuk “Alarm Krisis Iklim: Perspektif Feminis atas Pembangunan, Transisi Energi, dan Masa Depan Ruang Hidup di NTT”, para aktivis memaparkan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam ketahanan pangan. Pengetahuan lokal tentang pengelolaan benih dan pangan yang diwariskan secara turun-temurun menjadi modal utama bertahan di tengah krisis.

“Perempuan berperan penting dalam mengelola pangan dan menjaga keberlanjutan benih-benih lokal yang adaptif melalui pengetahuan serta praktik-praktik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Magdalena Eda Tukan dari Koalisi Kopi dalam paparannya.

Namun, peran strategis ini kerap tidak mendapat pengakuan dalam kebijakan pembangunan. Eda mengkritisi bahwa alih-alih memperkuat peran perempuan, sejumlah proyek energi skala besar di Flores justru mengancam akses mereka terhadap tanah dan air.

Transisi Energi atau Ancaman Ruang Hidup?

Sorotan tajam diarahkan pada penetapan Flores sebagai Pulau Panas Bumi. Para aktivis menilai agenda transisi energi yang didorong pemerintah itu berpotensi memperbesar kerentanan perempuan. Proyek-proyek tersebut dinilai berlangsung tanpa pelibatan masyarakat yang bermakna dan partisipatif.

“Pembangunan tersebut berpotensi mengancam ruang hidup perempuan karena berlangsung tanpa pelibatan yang bermakna dan partisipatif,” ujar Eda.

Ia menambahkan, situasi ini semakin memprihatinkan karena terjadi di tengah masyarakat Flores Timur yang masih berjuang menghadapi dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Dalam krisis berlapis itu, perempuan harus menanggung beban ganda: memastikan ketersediaan pangan dan air, sekaligus menjaga keberlangsungan komunitas.

Migrasi Jadi Strategi Bertahan, Perempuan Rentan Eksploitasi

Webinar tersebut juga menyoroti meningkatnya migrasi sebagai strategi bertahan hidup banyak keluarga di NTT. Perubahan pola musim dan bencana ekologis yang semakin sering memaksa warga mencari penghidupan baru di luar kampung halaman. Namun, dalam praktiknya, perempuan menjadi pihak paling rentan terhadap eksploitasi dan kekerasan saat harus meninggalkan kampung halaman.

Melalui diskusi ini, Solidaritas Perempuan Flobamoratas berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini dinilai penting untuk mengevaluasi arah pembangunan di NTT agar lebih berkeadilan, menghormati hak-hak perempuan, serta memastikan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

Bagikan
Sumber: waingapu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks