SOE — Sebuah video amatir yang merekam tiga anak sekolah dasar berjalan pulang dengan sandal usang dan tas penuh tambalan menjadi pemicu gerak cepat jajaran kepolisian di Nusa Tenggara Timur. Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko langsung memerintahkan Polres Timor Tengah Selatan (TTS) untuk menelusuri lokasi anak-anak tersebut dan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Ditemukan di Desa Oelbubuk, Kaki Hanya Beralas Sandal Robek
Petugas dari Polsek Mollo Selatan yang dikerahkan akhirnya menemukan ketiga siswa di Desa Oelbubuk, Kecamatan Mollo Tengah. Mereka adalah Jumaida Sarlota Hana Kase (10), siswi kelas IV; Angky Gabriel Mateos Kase (8), siswa kelas II; dan Alen Marsela Taifa (10), siswi kelas IV—ketiganya bersekolah di SD GMIT Oelbubuk.
Saat berdialog, polisi menemukan fakta sederhana yang menyentuh. Sepatu yang mereka miliki sudah rusak parah dan tidak bisa dipakai ke sekolah. “Ketika ditanya kenapa tidak menggunakan sepatu, mereka menjawab dengan polos bahwa sepatu mereka sudah robek sehingga tidak bisa dipakai ke sekolah,” kata Kapolres TTS AKBP Hendra Dorizen.
Kasat Lantas Antar Dua Siswa ke Kota Soe untuk Belanja
Alih-alih hanya menyalurkan bantuan sembako, Polres TTS memilih pendekatan yang lebih personal. Pada sore harinya, Kasat Lantas Polres TTS IPTU I Gusti Komang Astina bersama personel Satlantas menjemput Jumaida dan Angky beserta ibunya. Mereka diajak menuju Kota Soe untuk membeli perlengkapan sekolah baru—mulai dari sepatu, tas, hingga alat tulis.
“Ini bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi tentang memastikan bahwa anak-anak memiliki semangat untuk terus bersekolah dan mengejar cita-cita mereka,” ujar AKBP Hendra Dorizen. Momen memilih sendiri sepatu baru di toko menjadi pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan bagi kedua anak yang tinggal di wilayah pegunungan itu.
Sementara itu, Alen Marsela Taifa tidak ikut serta. Setelah berkoordinasi, orang tuanya menyampaikan bahwa sepatu yang dimiliki Alen masih layak pakai dan mereka masih sanggup memenuhi kebutuhan sekolah. Sikap jujur ini diapresiasi langsung oleh jajaran Polres TTS.
Polri: Hadir Bukan Hanya Saat Ada Hukum, Tapi Juga Saat Dibutuhkan
Kapolres TTS menegaskan bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak-anak di daerah terpencil akan menjadi perhatian berkelanjutan. Menurutnya, Polri memiliki tanggung jawab sosial yang melebihi tugas penegakan hukum. “Kami ingin menunjukkan bahwa Polri selalu hadir di tengah masyarakat, bukan hanya ketika ada persoalan hukum, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan perhatian dan kepedulian,” tuturnya.
Orang tua kedua anak itu tak kuasa menahan haru. Dengan mata berkaca-kaca, mereka menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Kapolda NTT dan jajaran Polres TTS. Bagi keluarga sederhana di pelosok desa itu, bantuan ini bukan sekadar benda, melainkan simbol bahwa masih ada pihak yang peduli pada masa depan anak-anak mereka.