Pencarian

Status Anak Krakatau Turun ke Waspada, Wisata Anyer Serang Berharap Pulih

Selasa, 22 September 2026 • 15:36:01 WIB
Status Anak Krakatau Turun ke Waspada, Wisata Anyer Serang Berharap Pulih
Status Gunung Anak Krakatau turun dari Siaga menjadi Waspada mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.

NUSA TENGGARA TIMUR — Status Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda resmi turun dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Pelaku usaha pariwisata di kawasan Anyer dan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, berharap penurunan status ini memulihkan kunjungan wisatawan. Selama berstatus Siaga sejak 2 Juli 2026, aktivitas wisata di pesisir barat Banten tetap berjalan karena jarak aman hanya 3 km dari pusat erupsi.

Bendahara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang, Herlinna, menyebut penurunan status gunung api tersebut sebagai kabar baik bagi pelaku usaha. Menurutnya, banyak warga lokal menggantungkan penghidupan dari sektor pariwisata di pesisir barat Banten.

Mengapa Wisata Anyer Tetap Aman Selama Siaga

Herlinna menjelaskan, kawasan wisata Anyer, Cinangka, dan Carita berjarak 40-60 km dari Gunung Anak Krakatau. Zona tidak aman hanya mencakup radius 3 km dari pusat erupsi.

"Selama status Level III pun aktivitas pariwisata di Anyer dan Cinangka tetap berjalan dengan mengikuti perkembangan informasi resmi. Dengan adanya penurunan status ini, tentu kami berharap kepercayaan wisatawan semakin baik dan kunjungan wisatawan dapat kembali meningkat," ujar Herlinna, Selasa (22/9/2026).

Ia mengimbau wisatawan tetap tenang dan tidak ragu beraktivitas di kawasan wisata, dengan mengikuti informasi resmi serta arahan BPBD dan instansi terkait.

Jangan Samakan dengan Tsunami Selat Sunda 2018

Herlinna mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini dengan peristiwa tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, longsoran badan gunung yang semula setinggi 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) menyusut menjadi 110 mdpl dan memicu tsunami.

"Kondisi saat ini perlu dilihat berdasarkan data dan evaluasi aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terbaru. Peristiwa 2018 merupakan kejadian yang berbeda, ketika aktivitas gunungapi dan longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau memicu tsunami di Selat Sunda," katanya.

Ia meminta masyarakat mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi serta BPBD, bukan mengambil kesimpulan dari perbandingan dengan peristiwa masa lalu.

Rekam Jejak Aktivitas Anak Krakatau Sebelum Status Turun

Gunung Anak Krakatau berada di Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Selama periode itu, gunung api tersebut mengalami 224 kali erupsi hingga 3 September 2026.

Pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, terjadi erupsi menerus selama 25 jam. Pantauan citra satelit Badan Geologi menunjukkan aliran lava mengalir ke arah barat laut-barat-barat daya dari pusat erupsi.

Setelah erupsi menerus berhenti, Anak Krakatau masih mengalami 7 kali erupsi strombolian. Aktivitas gunung api terpantau menurun hingga 20 September 2026 pukul 00.00 WIB, didukung data deformasi yang memperlihatkan deflasi.

Catatan kegempaan pada 20 September 2026 menunjukkan 1 kali gempa low frequency dan tremor menerus dengan rata-rata amplitudo 2 mm.

Dasar Penurunan Status dari Badan Geologi

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Api Anak Krakatau diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada), terhitung mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB," ucap Kepala Badan Geologi Lena Saria kepada wartawan, Senin (21/9/2026).

Bagi traveler yang merencanakan liburan ke Anyer, Cinangka, atau Carita, status Waspada tetap membuka ruang aktivitas wisata selama mengikuti arahan otoritas. Informasi terkini soal rekomendasi radius aman dan kondisi jalur dapat dikonfirmasi melalui BPBD Kabupaten Serang atau kanal resmi Badan Geologi.

Follow halokupang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks