NUSA TENGGARA TIMUR — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka berpeluang rebound ke rentang 6.500-6.550 pada perdagangan Senin (21/9/2026), setelah Jumat kemarin ditutup turun 0,33% di level 6.441,16. BNI Sekuritas menilai pelemahan disertai net sell asing Rp 1,79 triliun itu membuka ruang pantulan teknikal, meski tekanan inflasi global dari yield US Treasury yang menembus 5% masih membayangi.
Riset harian BNI Sekuritas menyebutkan IHSG berpotensi teknikal rebound dengan support di 6.400-6.320 dan resistensi 6.500-6.550. Rekomendasi itu muncul setelah bursa Asia bergerak menguat pada perdagangan Jumat (18/9), sementara dolar AS stabil dan yen melemah.
Net Sell Asing Rp 1,79 Triliun Tekan IHSG Jumat
Pada perdagangan Jumat, IHSG ditutup turun 0,33% ke 6.441,16. Aksi jual asing tercatat Rp 1,79 triliun, dengan BBCA, BMRI, AMMN, TLKM, dan DSSA menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing.
"IHSG hari ini berpotensi teknikal rebound di range 6500-6550. Diperkirakan Support IHSG: 6400-6320 dan Resist IHSG: 6500-6550," sebut Karina Rusfidyawati, Retail Research Analyst BNI Sekuritas, dalam riset Senin (21/9).
Enam Saham Pilihan Trading Hari Ini
BNI Sekuritas merilis sejumlah saham untuk trading idea, lengkap dengan area beli, cut loss, dan target harga:
- INCO: spec buy area 4.840-4.860, cut loss di bawah 4.790, target 4.920-5.000
- ANTM: spec buy area 3.320-3.340, cut loss di bawah 3.290, target 3.380-3.440
- ARCI: spec buy area 1.370-1.380, cut loss di bawah 1.355, target 1.395-1.425
- MAPI: buy if break 1.500, cut loss di bawah 1.475, target 1.515-1.545
- BULL: spec buy area 386-390, cut loss di bawah 382, target 396-402
- MBMA: spec buy area 540-545, cut loss di bawah 535, target 555-565
Yield US Treasury 5% dan Minyak di Atas US$ 100 Jadi Pemberat
Wall Street menutup perdagangan Jumat dengan pergerakan beragam setelah pekan yang volatil. Dow Jones turun 95,40 poin (0,18%), S&P 500 naik 12,74 poin (0,17%), dan Nasdaq Composite menguat 104,25 poin (0,40%).
Kekhawatiran inflasi kembali mencuat setelah yield US Treasury menembus 5% dan harga minyak mentah bertahan di atas US$ 100 per barel. Harga minyak berbalik melemah dari level tertingginya setelah China, atas permintaan Arab Saudi, meminta Iran membatasi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Brent turun hampir 1% menjadi US$ 103,87 per barel.
Saham Xenon Pharmaceuticals anjlok 30,7% setelah perusahaan menghentikan sementara pendaftaran peserta uji klinis obat eksperimental untuk depresi berat dan bipolar menyusul laporan efek samping. Sebaliknya, saham terkait aset kripto menguat: Coinbase, Strategy, dan Robinhood masing-masing naik 9,1% hingga 16,4% seiring lonjakan bitcoin 5,9%.
BOJ Naikkan Suku Bunga, Asia Bergerak Menguat
Bank of Japan memutuskan menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 1,25%, langkah pengetatan menyusul meningkatnya risiko inflasi dan tekanan kebijakan dari AS. Nikkei 225 melesat 1,4%, meski Topix melemah 0,07%.
Bursa Asia lainnya kompak menguat: Hang Seng Hong Kong naik 0,6%, Taiex Taiwan 1,9%, dan Kospi Korea Selatan 2,7%. ASX 200 Australia turun tipis 0,01%, Straits Times melemah 0,08%, dan FTSE Malaysia turun 0,55%.
BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di 5,75%
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dijadwalkan pada 22-23 September 2026. Konsensus memperkirakan BI menahan suku bunga acuan di 5,75%, meskipun The Fed baru saja menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 3,75%-4,00%.
Bagi investor, kombinasi yield US Treasury yang tinggi dan harga minyak di atas US$ 100 per barel menjaga tekanan terhadap rupiah dan arus modal asing. Pelaku pasar menantikan hasil RDG BI untuk mengukur arah kebijakan moneter domestik dalam beberapa bulan ke depan.