NAGEEO — Ratusan pengungsi gempa di Kabupaten Nagekeo kini tak perlu lagi mengurus dokumen kependudukan secara manual. Dinas Dukcapil setempat mengerahkan petugas untuk menyisir setiap posko pengungsian, mendata warga, hingga mengantarkan langsung dokumen yang sudah selesai dicetak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dukcapil Kabupaten Nagekeo, Oscar Yoseph Amekae, mengatakan layanan ini akan berjalan selama dua pekan hingga awal September 2026. Setiap harinya, satu posko pengungsian menjadi fokus utama tim.
Dokumen Rusak, Hilang, hingga Tertimbun Reruntuhan
Kondisi darurat pascagempa membuat banyak warga kehilangan identitas. Oscar menjelaskan, dokumen yang biasa diurus warga bervariasi, mulai dari Kartu Keluarga (KK), e-KTP, hingga akta kelahiran. Kerusakan terjadi karena berbagai sebab, seperti tertimbun reruntuhan bangunan, hilang saat mengungsi, atau tersapu air laut akibat tsunami.
"Mencetak dokumen kependudukan sekaligus merekam KTP penerbitan dokumen kependudukan lainnya seperti akta kelahiran bagi warga yang mengungsi. Fokus kita di kamp-kamp pengungsi, jemput bola bagi mereka yang terdampak," ujarnya saat ditemui di lokasi pengungsian, Kamis (27/8/2026).
IKD Plus Jadi Solusi di Tengah Keterbatasan Blangko
Untuk mempercepat proses, pemerintah pusat telah memberikan dukungan berupa jaringan internet dan perangkat pendukung. Dukcapil Nagekeo juga telah dibekali aplikasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) Plus.
Melalui sistem digital ini, warga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ketersediaan blangko fisik. Sosialisasi penggunaan IKD Plus dilakukan langsung di setiap posko menggunakan perangkat android milik petugas.
"Dinas dukcapil sudah dibekali IKD plus untuk membantu masyarakat sehingga dokumen berbentuk kertas, blangko, sekarang kami bisa sosialisasi. Kami aktivitas dimasing-masing perangkat andorid plus IKD," kata Oscar.
Warga: Semua Dokumen Hilang saat Air Laut Naik
Di tengah kesibukan petugas, warga mengaku terbantu dengan adanya layanan ini. Asniyati Jumardi, salah seorang pengungsi, menceritakan bagaimana seluruh dokumen keluarganya lenyap saat bencana menerjang. Rumahnya yang berada di dekat pantai turut menjadi korban terjangan air laut.
"Mengurus KK yang hilang akibat bencana kemarin, rumah kami dekat pantai dan air laut naik, semua hilang. Terima kasih banyak kami bisa mengurus KK," ungkap Asniyati.
Dengan adanya layanan jemput bola ini, warga yang masih bertahan di pengungsian tidak perlu khawatir kehilangan hak administratifnya. Dukcapil memastikan dokumen yang telah diproses akan diantar langsung ke posko-posko pengungsian setelah selesai dicetak.