KUPANG — Aktivitas seismik di Nusa Tenggara Timur masih jauh dari kata reda. Hingga Selasa (25/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mencatat total 7.029 kali gempa bumi susulan dengan rentang kekuatan beragam, mulai dari magnitudo 1,1 hingga yang terbesar mencapai M 6,2.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan pola temporal gempa susulan di wilayah tersebut belum menunjukkan tren yang sederhana. Artinya, energi di bawah permukaan masih terus dilepaskan secara bertahap.
"Pola ini (gempa bumi susulan) akan berlangsung sampai 3-4 Minggu setelah gempa utama terjadi," ujar Berton dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).
Ratusan Getaran Terjadi dalam Sehari
Intensitas gempa susulan yang terjadi terbilang tinggi. BNPB mencontohkan, pada Senin (24/8) kemarin saja, tercatat ada 141 kali gempa bumi susulan dalam kurun waktu 24 jam. Angka ini menunjukkan bahwa lempeng di kawasan NTT masih sangat aktif bergerak.
Sebagaimana diketahui, gempa bumi utama berkekuatan M 7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 lalu tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu rentetan gempa ikutan yang mengkhawatirkan warga.
Berapa Jumlah Korban Jiwa Terbaru?
Di tengah masih berlangsungnya gempa susulan, BNPB sebelumnya juga melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di NTT kembali bertambah. Meski demikian, data resmi terkini mengenai angka pasti korban jiwa serta kerusakan bangunan masih terus dilakukan pemutakhiran oleh tim gabungan di lapangan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan berkekuatan sedang yang sewaktu-waktu bisa terjadi. BNPB juga meminta warga yang tinggal di daerah lereng atau perbukitan untuk mewaspadai potensi longsor susulan pascagempa utama.