MANGGARAI — Suara Hermelinda Jebarus, perwakilan perempuan adat Pocoleok, bergema menembus sekat ruang publik. Ia menyampaikan kenyataan pahit bahwa dirinya dan kaum perempuan adat di wilayahnya tidak dilibatkan secara bermakna dalam sosialisasi awal penetapan lokasi pengeboran proyek panas bumi Ulumbu.
Pengabaian itu bukan persoalan administratif atau kekhilafan teknis sosial semata. Menurut Hermelinda, ada bias gender yang destruktif dalam tata kelola pembangunan energi nasional.
Dampak Langsung ke Dapur dan Sumur Warga
Konsekuensi pengabaian tidak berhenti di ruang diskusi formal. Persoalan merembet ke denyut kehidupan sehari-hari perempuan adat Pocoleok.
Perempuan mengemban peran sentral dalam pengelolaan pangan, air bersih, serta pemeliharaan ruang hidup keluarga. Ketika suara dan pengalaman mereka dimarjinalkan dari proses pengambilan keputusan, risiko kehancuran ruang hidup dan kerusakan struktur sosial lokal menjadi tak terelakkan.
Ketimpangan yang ada kian tereskalasi. Perempuan pun terdesak di tengah arus modernisasi energi yang mengabaikan keadilan gender.
Transisi Energi Hijau, Partisipasi yang Dipinggirkan
Mega-proyek geotermal masuk ke ruang hidup masyarakat Pocoleok dengan narasi transisi energi hijau yang tampak mulia di tingkat global. Di balik retorika itu, partisipasi perempuan justru dipinggirkan.
Pengalaman Hermelinda disebut sebagai puncak gunung es dari marjinalisasi sistematis yang dihadapi perempuan adat di tanah air. Perempuan Pocoleok tidak sekadar bertahan. Mereka berdiri di garis depan mempertahankan hak atas tanah, air, dan keberlanjutan hidup.
Ekofeminisme: Membaca Penindasan Perempuan dan Eksploitasi Alam
Akar perlawanan perempuan Pocoleok bisa dibedah lewat kacamata ekofeminisme. Perspektif yang dicetuskan Francoise d'Eaubonne pada dekade 1970-an dan dikembangkan tokoh seperti Vandana Shiva serta Karen Warren ini menegaskan hubungan konseptual, historis, dan struktural antara penindasan perempuan dan eksploitasi alam.
Logika dominasi patriarki dan maskulinisme pembangunan memandang alam serta perempuan lewat lensa utilitarian. Keduanya diposisikan sebagai objek yang harus ditaklukkan, dikuasai, dan dieksploitasi demi pertumbuhan ekonomi murni.
Alam diperlakukan sebagai pasokan sumber daya tanpa batas yang pasif. Perempuan kerap diposisikan sebagai figur domestik tanpa hak suara dalam pengambilan keputusan strategis.
Rapat Berpendingin Udara, Warga yang Menanggung Dampak Lapangan
Penetapan lokasi pengeboran tanpa keterlibatan perempuan menegaskan asumsi teknokratis yang bias patriarkal. Keputusan krusial yang berdampak langsung pada ruang hidup diambil di ruang rapat berpendingin udara yang didominasi figur otoritas maskulin.
Sementara itu, perempuan yang berhadapan langsung dengan dampak fisik dan sosial di lapangan justru dibungkam. Marginalisasi ini mengabaikan hak dasar perempuan atas partisipasi yang adil.
Pengetahuan lokal perempuan soal tata kelola lingkungan dan sumber daya alam juga ikut tereduksi. Padahal ketika kerusakan lingkungan timbul, seperti krisis air bersih hingga terganggunya produktivitas lahan pertanian, perempuan menanggung beban domestik paling berat.
Ketika Mata Air Mengering, Perempuan Berjalan Lebih Jauh
Hubungan perempuan adat dan alam bukan transaksi ekonomi belaka. Ada ikatan eksistensial dan ekologis yang berkelanjutan.
Dalam pembagian kerja tradisional masyarakat adat, perempuan mengelola sumber daya alam domestik: mengambil air bersih, mengumpulkan kayu bakar, mengelola ladang pangan, dan menjaga kesehatan keluarga lewat tanaman obat.
Ketika proyek eksploitasi skala besar mengganggu keseimbangan ekosistem Pocoleok, perempuan menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya. Ancaman hilangnya mata air, risiko pencemaran udara, dan alih fungsi lahan perkebunan memperberat beban itu.
Jika air mengering atau tercemar akibat aktivitas pengeboran, perempuan harus berjalan lebih jauh mencari air bersih. Jika hasil ladang menurun akibat perubahan mikroiklim setempat, beban emosional dan praktis memastikan dapur tetap mengepul jatuh ke pundak perempuan.
Dari kondisi itulah tindakan perlawanan perempuan Pocoleok meletup, termasuk saat mereka menghadang alat berat demi mempertahankan ruang hidup yang terancam.