NUSA TENGGARA TIMUR — Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok, NTB, pada 11 Oktober 2026 menorehkan dampak ekonomi hingga Rp 5,2 triliun. Angka itu naik dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,96 triliun, sekaligus menegaskan posisi MotoGP sebagai mesin penggerak sport tourism nasional. Bagi warga Lombok, gelaran ini bukan sekadar balapan, melainkan denyut ekonomi yang menjalar hingga ke UMKM dan tenaga kerja lokal.
Pertamina Mandalika International Circuit untuk kelima kalinya menjadi tuan rumah ajang balap motor paling bergengsi di dunia. Lebih dari 157 ribu pasang mata menyaksikan pembalap melesat di atas 350 km/jam, memecah keheningan bukit-bukit tandus Mandalika. Sejak pertama digelar FIM pada 1949, MotoGP memang selalu jadi magnet wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Geliatnya tidak berhenti di arena sirkuit. Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid disulap menjadi miniatur sirkuit, memperpanjang atmosfer balapan sampai ke pintu masuk Pulau Lombok. Masyarakat pun berharap gairah balapan itu berbuah ekonomi yang makin kencang.
Dampak Ekonomi Naik Jadi Rp 5,2 Triliun
ITDC menggandeng Lembaga Teknik dan Manajemen Industri (LETMI) Institut Teknologi Bandung untuk mengukur dampak ekonomi edisi 2026. Kajian itu memakai pendekatan Input-Output berbasis tabel BPS serta pendekatan Keynesian untuk menghitung efek pengganda. Hasilnya, dampak ekonomi MotoGP Mandalika diperkirakan menembus Rp 5,2 triliun, naik dari Rp 4,96 triliun pada tahun lalu.
Rata-rata belanja pengunjung tercatat Rp 8,56 juta per orang. Penghitungan mencakup pengeluaran wisatawan mancanegara sejak sepekan sebelum hingga selama event, dengan estimasi total belanja langsung mencapai Rp 1,35 triliun. Sebagai pembanding, pada 2023 rata-rata belanja pengunjung hanya sekitar Rp 3,5 juta per orang.
Angka itu perlu dibaca dengan memperhatikan periode pengukuran yang dipakai. Pengeluaran yang dihitung meliputi akomodasi, makanan dan minuman, transportasi lokal, hiburan, wisata, hingga pembelian oleh-oleh.
Manfaat Nyata bagi UMKM dan Tenaga Kerja
Kajian Kementerian PPN/Bappenas pada edisi 2025 menunjukkan dampak ekonomi Rp 2,7 triliun hingga Rp 4,7 triliun. Hitungan itu mencakup dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan, serta mendukung terciptanya puluhan ribu kesempatan kerja pada tahap persiapan dan penyelenggaraan.
Manfaatnya menyebar ke sektor pariwisata, UMKM, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif, dan masyarakat NTB. Survei yang melibatkan lebih dari 1.800 responden mencatat tingkat kepuasan tenaga kerja dan relawan sebesar 5,51 dari skala 6. Kepuasan pelaku UMKM dan tenant mencapai 5,23 dari skala 6.
Dari sisi promosi, eksposur media global menghasilkan Advertising Value Equivalency sebesar 361,6 juta euro atau sekitar Rp 6,9 triliun. Nilai itu mencerminkan besarnya promosi Indonesia dan Mandalika di mata dunia.
Modal Menarik Wisatawan Kembali
Survei Bappenas dan ITDC juga menangkap niat wisatawan untuk kembali berkunjung ke Indonesia. Skor pengalaman penonton atau brand equity mencapai 5,07 dari skala 6. Kajian memperkirakan peningkatan eksposur Mandalika berpotensi menaikkan kunjungan wisatawan sekitar 11 persen bila didukung promosi destinasi yang terintegrasi.
"MotoGP Mandalika telah memperlihatkan bagaimana sebuah event olahraga kelas dunia mampu memperkuat daya tarik destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta menggerakkan ekonomi lokal. Sinergi sektor pariwisata dengan olahraga akan terus diperkuat sebagai bagian dari pengembangan sport tourism Indonesia," jelas Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sebelum Pertamina Grand Prix of Indonesia digelar.
Ahmad Fajar, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, menyebut dampak ekonomi MotoGP sudah terasa sejak sepekan sebelum balapan, saat wisatawan mulai berdatangan. Bagi NTB, gelaran ini menjadi bukti bahwa sport tourism bukan sekadar tontonan, melainkan sumber pendapatan yang menjalar ke lapisan paling bawah ekonomi lokal.