NUSA TENGGARA TIMUR — Gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco, diserang rudal pemberontak Houthi Yaman pada Selasa malam di Dhahran, Provinsi Timur. Serangan memicu kebakaran di kompleks tersebut, namun Kementerian Energi Arab Saudi memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden itu.
Paragraf pembuka: Serangan terhadap fasilitas Aramco di Dhahran terjadi berselang setelah koalisi pimpinan Saudi menghantam sejumlah lokasi Houthi di Yaman. Otoritas setempat bergerak cepat merespons insiden dan menerapkan prosedur penanganan darurat di sekitar kompleks. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada klaim resmi dari pihak Houthi maupun pernyataan lanjutan dari Kementerian Energi Arab Saudi soal nilai kerugian material.
Kebakaran di Kompleks Aramco, Warga Sekitar Ketakutan
Ledakan dahsyat yang mengguncang kawasan Dhahran membuat warga yang tinggal di dekat kompleks Aramco berhamburan keluar rumah. Seorang wanita mengaku belum pernah mendengar suara ledakan sekeras itu sepanjang hidupnya.
"Ini adalah ledakan paling keras yang pernah saya dengar seumur hidup saya," ujarnya kepada The National, dikutip dari laporan yang sama.
Warga lain menuturkan kerabatnya yang bermukim lebih dekat ke lokasi melihat asap tebal dan kobaran api membumbung dari area kejadian. Mereka tidak bisa mendekat untuk memastikan apa yang terjadi karena asap menyelimuti kawasan.
"Mereka tidak bisa keluar untuk memeriksa apa yang terjadi karena asap ada di mana-mana," katanya.
Puing Rudal Cegatan Rusak 15 Rumah di Riyadh
Dampak serangan tidak hanya terasa di Dhahran. Puing dari dua rudal jelajah yang dicegat dan dihancurkan di atas langit Riyadh dilaporkan melukai empat orang, terdiri dari dua wanita, seorang pria, dan seorang anak.
Pertahanan Sipil Saudi, seperti dikutip televisi pemerintah, menyatakan puing yang jatuh turut merusak 15 rumah warga di ibu kota. Petugas langsung menerapkan prosedur penanganan yang telah ditetapkan begitu menerima laporan.
Sekolah Beralih Daring, Rute Perjalanan Dialihkan
Aktivitas di Riyadh tetap berjalan pascaserangan mematikan tersebut, tetapi tidak sepenuhnya normal. Sekolah-sekolah di ibu kota mengalihkan kegiatan belajar ke pembelajaran daring, sementara sejumlah rute perjalanan warga dialihkan untuk mengantisipasi risiko lanjutan.
Langkah itu diambil otoritas setempat sebagai bentuk kewaspadaan setelah eskalasi serangan lintas batas antara koalisi pimpinan Saudi dan kelompok Houthi kembali memanas. Warga diminta mengikuti arahan petugas jika menemukan serpihan atau benda mencurigakan di sekitar permukiman.
Penutup: Serangan ke gedung administrasi Aramco menambah panjang daftar insiden yang menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk. Bagi pasar global, gangguan terhadap fasilitas Aramco selalu jadi perhatian karena posisi Arab Saudi sebagai salah satu pemasok minyak terbesar dunia.