LABUAN BAJO — Ratusan siswa SDK Sta. Yosefa di Labuan Bajo kembali menjalani aktivitas sekolah dengan rasa aman setelah Polres Manggarai Barat memberikan pendampingan psikososial pascagempa bumi yang melanda Flores. Kegiatan yang berlangsung Senin (7/9) itu memadukan terapi USEFT (Ultimate SBMS Emotional Freedom Technique) dengan simulasi keselamatan bencana.
Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang menyebut anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami gangguan psikologis saat krisis terjadi. Karena itu, pemulihan kondisi mental pelajar menjadi prioritas aparat setelah situasi keamanan dipastikan kondusif.
Metode Terapi: Tapping Tubuh dan Afirmasi Positif
Terapi USEFT yang diberikan kepada siswa menggunakan teknik ketukan ringan atau tapping pada sejumlah titik tubuh. Siswa diajak melakukannya sambil mendengarkan afirmasi positif untuk melepaskan ketegangan fisik dan kecemasan yang masih tersisa.
“Anak-anak adalah kelompok yang paling merasakan dampak psikologis saat krisis terjadi. Melalui pendampingan psikososial dan terapi USEFT ini, kami ingin membantu melepaskan ketegangan fisik maupun kecemasan mereka,” ujar AKBP Christian Kadang di Labuan Bajo.
Sebelum terapi dimulai, polisi mengajak siswa bermain ice breaking, permainan edukatif, dan bernyanyi bersama. Suasana cair itu dirancang agar anak-anak tidak merasa tertekan saat menjalani proses pemulihan.
Simulasi Selamat Saat Gempa di Sekolah
Polres Manggarai Barat tidak hanya fokus pada pemulihan trauma. Unit Kamsel Satlantas turut memberikan edukasi keselamatan berupa simulasi sederhana langkah-langkah yang harus dilakukan siswa jika gempa terjadi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
“Tidak hanya fokus pada pemulihan trauma, tim juga membekali para siswa dengan panduan praktis penyelamatan diri guna mengantisipasi risiko gempa susulan di lingkungan sekolah,” terang AKBP Christian.
Respons Kepala Sekolah: Anak Kini Berani Kembali ke Kelas
Kepala SDK Sta. Yosefa, Sr. Apoloris Imun, SSpS., mengungkapkan perubahan signifikan terlihat pada murid-muridnya setelah pendampingan dilakukan. Rasa takut yang sebelumnya membayangi anak-anak perlahan berganti dengan kegembiraan.
“Kehadiran Bapak dan Ibu Polisi hari ini sangat berarti bagi kami. Anak-anak yang sebelumnya cemas dan takut kembali ke sekolah kini terlihat gembira dan antusias,” ungkap Sr. Apoloris Imun.
Ia menambahkan, pendampingan ini berdampak positif bagi kondisi emosional anak-anak sekaligus membangun kembali keberanian mereka untuk beraktivitas di lingkungan sekolah.
Pemulihan Trauma Bakal Dilanjutkan ke Sekolah Lain
Polres Manggarai Barat berencana memperluas program pemulihan trauma ke sekolah-sekolah lain yang terdampak gempa di wilayah tersebut. Upaya ini dilakukan agar kondisi psikologis anak-anak terus terpantau, terutama bagi mereka yang masih mengalami kecemasan pascabencana.