JAKARTA — IHSG ditutup melemah tipis 0,09 persen ke level 6.334 pada perdagangan sehari sebelumnya. Pelemahan itu dibarengi aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,11 triliun. Saham-saham dengan tekanan jual terbesar meliputi DSSA, BBRI, ASII, AMMN, dan TPIA.
Level Kritis 6.300 Jadi Penentu Arah IHSG
Fanny menjelaskan IHSG diprakirakan bergerak dalam rentang support 6.250-6.300 dan resistansi 6.380-6.480 pada perdagangan hari ini. Level 6.300 menjadi batas psikologis yang menentukan: bila bertahan, momentum penguatan terbuka; bila jebol, risiko koreksi semakin nyata.
“Jika IHSG kuat bertahan di atas support 6.300-6.330, ini berpotensi naik hingga 6.700-6.850 middle term,” kata Fanny dalam risetnya, Kamis (23/7/2026). Ia mengingatkan jika IHSG kembali tembus di bawah 6.300, indeks berpotensi terkoreksi ke level 6.000an.
Tekanan dari Luar: Minyak Mentah dan Suku Bunga The Fed
Fanny mencermati lonjakan harga minyak mentah akibat memanasnya konflik di Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang membebani bursa global. Harga minyak Brent tercatat naik menjadi USD94,07 per barel, setelah sempat menembus level USD95. Sementara minyak WTI berada di level USD86,83 per barel.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang berujung pada spekulasi bank sentral AS, The Fed, akan kembali menaikkan suku bunga. Wall Street pun mengalami pelemahan pada Rabu (22/7/2026), sementara bursa Asia bergerak variatif.
“Pasar mengkhawatirkan dampak lonjakan harga minyak terhadap laju inflasi. Inflasi tinggi akan mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat,” ujar Fanny.
Kejutan BI: Suku Bunga Tetap 5,75 Persen di Luar Ekspektasi Pasar
Di tengah tekanan global, Bank Indonesia (BI) justru mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen per Juli 2026. Keputusan itu berada di luar prakiraan para analis yang sebelumnya memprediksi BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.