LARANTUKA — Kemenag Flores Timur tidak hanya mengurus urusan ibadah. Lembaga ini kini terjun langsung memulihkan ekosistem laut yang rusak. Kepala Kantor Kemenag Flores Timur Yosef Aloysius Babaputra menegaskan bahwa merawat alam adalah bentuk pengamalan iman yang konkret.
"Kementerian Agama bukan hanya mengurus persoalan agama dalam arti sempit. Kami juga memiliki tanggung jawab membangun kesadaran bersama untuk merawat lingkungan hidup sebagai bagian dari pengamalan iman," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Kupang.
450 Fragmen Karang dari Sisa Patahan Alami
Fragmen yang ditanam bukan diambil dari alam secara liar. Jenis karang bercabang yang digunakan sebelumnya ditemukan patah di sejumlah titik perairan. Melalui metode transplantasi, potongan-potongan itu dimanfaatkan kembali untuk rehabilitasi terumbu karang.
Penanaman dilakukan menggunakan delapan media. Tujuh di antaranya berbentuk spider web dari rangka besi, dan satu meja besi berukuran 2 x 1 meter. Area penanaman merupakan perluasan dari lokasi konservasi yang sudah ada sebelumnya di Batumea.
Gotong Royong Lintas Elemen: Dari KKN UGM hingga Orang Muda Katolik
Aksi ini diinisiasi oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) San Dominggo bersama Tim Romantika Larantuka, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada Tahun 2026. Kemenag Flores Timur melibatkan Kelompok Kerja Penyuluh Agama Katolik, Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan Larantuka, Karang Taruna, Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan, Orang Muda Katolik Paroki Katedral Larantuka, tokoh masyarakat, dan warga pesisir.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembersihan kawasan pantai, doa bersama, sambutan pemangku kepentingan, penyerahan piagam penghargaan, hingga penanaman fragmen karang.
Laut adalah Identitas Bersama Masyarakat Pesisir
Ketua POKMASWAS San Dominggo Monika Bataona mengatakan bahwa kolaborasi lintas pihak penting untuk memperkuat pelibatan masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, menjaga laut bukan sekadar proyek sesaat.
"Kami percaya bahwa laut merupakan identitas bersama masyarakat pesisir. Karena itu, kesadaran menjaga laut harus menjadi gerakan kolektif seluruh masyarakat yang hidup di wilayah pesisir," ujar Monika.
Dua minggu setelah penanaman, monitoring akan dilakukan. Tim akan membersihkan media, merawat fragmen karang, dan mencatat perkembangan sebagai bahan evaluasi keberhasilan rehabilitasi.
Bukan Sekadar Aksi Seremonial
Yosef menegaskan bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Kemenag Flores Timur telah mendorong penguatan ekoteologi lewat berbagai aksi berkelanjutan, seperti penanaman pohon oleh ASN, pendampingan kelompok tani hortikultura, pelepasan tukik, edukasi lingkungan, dan pelestarian kawasan pesisir.
Koordinator Tim Romantika Larantuka KKN UGM 2026 Anggito Yoel berharap kolaborasi ini memperkuat budaya peduli lingkungan. Ia mengingatkan bahwa menjaga laut membutuhkan kesadaran dan keterlibatan bersama secara berkelanjutan, bukan aksi dadakan.